Jaya Susila : Pilgub Bali Pertarungan Head to Head, Mantra-Kerta Unggul


 

Denpasar, suryadewata.com
Pilkada Bali periode 2018 – 2023 hanya 2(dua) pasangan calon(Paslon). Kedua paslon adalah Koster-Ace  dan Mantra Kerta. Karenanya tidak terelakkan kedua paslon akan bertarung head to head. “Namun saya memprediksi keunggulan berada di pihak Mantra-Kerta karena lebih berpengalaman. Sebab dengan memiliki segudang pengalaman di birokrasi  mereka sudah punya data base apa yang kurang untuk bisa dibenahi, sedangkan orang yang tidak berpengalaman sifatnya coba – coba itu berbahaya di era globalisasi yang serba cepat. Orang yang  berpengalaman jauh lebih kuat, sekalipun jatuh masih bisa bangkit kembali,”ujar Jaya Susila yang ditemui di rumah aspirasi Drs.I Ketut Sudikerta sang Calon Wakil Gubernur pada Selasa(9/1/2018).

Ia mengingatkan masyarakat Bali agar jangan salah memilih pemimpin Bali pada Pilgub kali ini. “Pilihlah pemimpin yang telah memiliki konsep pembangunan yang jelas. Kesenjangan pembangunan antara Bali Selatan dengan Bali Utara, Barat dan Timur merupakan pekerjaan besar yang harus dituntaskan. Jika tidak mempunyai konsep yang jelas maka kesenjangan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di wilayah yang dimaksud akan sulit untuk diatasi.

Kesenjangan pembangunan di wilayah ini merupakan pekerjaan besar yang harus dituntaskan, baik pejabat pusat maupun. Menurut mantan ketua Kadin Bali yang juga pengusaha ini para pejabat daerah tidak banyak memberi solusi.” Saya punya solusi untuk kesejahteraan masyarakat tetapi berbicara di depan umum tidak enak nanti awak media akan saya undang untuk berdiskusi,”ucapnya.

Jaya Susila juga mengkritisi kinerja pemerintah daerah yang dinilainya kurang bekerja secara optimal dan efisien dalam pembangunan ekonomi, infrastruktur untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat di daerahnya. “Sekarang semua program pemerintah pusat yang kerjakan sedang di daerah tidak optimal. Saya melihat sekarang ini negara tidak efisien. Contohnya, orang di Jakarta ribut masalah beras sedang di daerah orang tidak bicara beras jadi semua dikerjakan di pusat sedang di daerah tidak kerja,”sesalnya.

Terkait figur Wakil Gubernur Drs.I Ketut Sudikerta yang menjadi calon wakil gubernur berpasangan dengan Walikota Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra,SE, mengatakan, “saya kenal baik pak Sudikerta, orangnya  low profile dan memiliki jiwa enterpreneurship sangat cocok dipadukan dengan pak Rai Mantra yang kalem. Tinggal sekarang bagaimana perpaduan kedua figur ini lebih dikenal luas di masyarakat terutama program-program mereka yang sudah terbukti telah dinikmati sebagian besar masyarakat di Bali.
Sekaranglah waktunya membentuk manajemen tim kampanye yang lebih efektif. Dulu seperti Ahmadiah mengundang saya ke Jaya Sabha tidak ada yang berani datang. Saya ditunjuk untuk datang, saya bicara di depan Ahmadiah beda jadinya. Demikianpun halnya dengan paket Mantra-Kerta harus ada program partai untuk menyampaikan kekuatan kedua figur ini ke masyarakat Bali. Jadi mesin partai harus berjalan demi penguatan informasi. Sekarang Golkar punya pendukung data di TPS itu harus dipelihara. Tim harus pakai IT karena kalau pakai otak ya tidak akan bisa berjalan efektif untuk mengkomunikasikan keunggulan figur kedua calon ini.

Terkait pariwisata Bali yang rentan terhadap isu seperti masalah teroris dan yang paling dirasakan pada saat ini adalah Erupsi Gunung Agung disebutkan, “Masalah pariwisata, kita undang wisatawanpun tidak akan datang kalau Gunung Agung masih berbahaya. Wisatawan setelah mendarat di Bali tidak bisa balik lagi karena pesawat tidak bisa terbang. Pemerintah harus menjamin wisatawan tidak usah membayar ketika mereka terpaksa tidak bisa terbang akibat erupsi Gunung Agung. Apabila jaminan itu tidak ada ya sulit. Sebab pengusaha kita dualisme di provinsi punya kekuasaan yang bisa memberi jaminan supaya pariwisata meningkat. Nah kalau situasi sudah aman pesawat bisa terbang baru wisatawan akan datang lagi,”pungkasnya.  (don/yut)
Denpasar, Berita Fajar Timur.com
Pilkada Bali periode 2018 – 2023 hanya 2(dua) pasangan calon(Paslon). Kedua paslon adalah Koster-Ace  dan Mantra Kerta. Karenanya tidak terelakkan kedua paslon akan bertarung head to head. “Namun saya memprediksi keunggulan berada di pihak Mantra-Kerta karena lebih berpengalaman. Sebab dengan memiliki segudang pengalaman di birokrasi  mereka sudah punya data base apa yang kurang untuk bisa dibenahi, sedangkan orang yang tidak berpengalaman sifatnya coba – coba itu berbahaya di era globalisasi yang serba cepat. Orang yang  berpengalaman jauh lebih kuat, sekalipun jatuh masih bisa bangkit kembali,”ujar Jaya Susila yang ditemui di rumah aspirasi Drs.I Ketut Sudikerta sang Calon Wakil Gubernur pada Selasa(9/1/2018).

Ia mengingatkan masyarakat Bali agar jangan salah memilih pemimpin Bali pada Pilgub kali ini. “Pilihlah pemimpin yang telah memiliki konsep pembangunan yang jelas. Kesenjangan pembangunan antara Bali Selatan dengan Bali Utara, Barat dan Timur merupakan pekerjaan besar yang harus dituntaskan. Jika tidak mempunyai konsep yang jelas maka kesenjangan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di wilayah yang dimaksud akan sulit untuk diatasi.

Kesenjangan pembangunan di wilayah ini merupakan pekerjaan besar yang harus dituntaskan, baik pejabat pusat maupun. Menurut mantan ketua Kadin Bali yang juga pengusaha ini para pejabat daerah tidak banyak memberi solusi.” Saya punya solusi untuk kesejahteraan masyarakat tetapi berbicara di depan umum tidak enak nanti awak media akan saya undang untuk berdiskusi,”ucapnya.

Jaya Susila juga mengkritisi kinerja pemerintah daerah yang dinilainya kurang bekerja secara optimal dan efisien dalam pembangunan ekonomi, infrastruktur untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat di daerahnya. “Sekarang semua program pemerintah pusat yang kerjakan sedang di daerah tidak optimal. Saya melihat sekarang ini negara tidak efisien. Contohnya, orang di Jakarta ribut masalah beras sedang di daerah orang tidak bicara beras jadi semua dikerjakan di pusat sedang di daerah tidak kerja,”sesalnya.

Terkait figur Wakil Gubernur Drs.I Ketut Sudikerta yang menjadi calon wakil gubernur berpasangan dengan Walikota Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra,SE, mengatakan, “saya kenal baik pak Sudikerta, orangnya  low profile dan memiliki jiwa enterpreneurship sangat cocok dipadukan dengan pak Rai Mantra yang kalem. Tinggal sekarang bagaimana perpaduan kedua figur ini lebih dikenal luas di masyarakat terutama program-program mereka yang sudah terbukti telah dinikmati sebagian besar masyarakat di Bali.
Sekaranglah waktunya membentuk manajemen tim kampanye yang lebih efektif. Dulu seperti Ahmadiah mengundang saya ke Jaya Sabha tidak ada yang berani datang. Saya ditunjuk untuk datang, saya bicara di depan Ahmadiah beda jadinya. Demikianpun halnya dengan paket Mantra-Kerta harus ada program partai untuk menyampaikan kekuatan kedua figur ini ke masyarakat Bali. Jadi mesin partai harus berjalan demi penguatan informasi. Sekarang Golkar punya pendukung data di TPS itu harus dipelihara. Tim harus pakai IT karena kalau pakai otak ya tidak akan bisa berjalan efektif untuk mengkomunikasikan keunggulan figur kedua calon ini.

Terkait pariwisata Bali yang rentan terhadap isu seperti masalah teroris dan yang paling dirasakan pada saat ini adalah Erupsi Gunung Agung disebutkan, “Masalah pariwisata, kita undang wisatawanpun tidak akan datang kalau Gunung Agung masih berbahaya. Wisatawan setelah mendarat di Bali tidak bisa balik lagi karena pesawat tidak bisa terbang. Pemerintah harus menjamin wisatawan tidak usah membayar ketika mereka terpaksa tidak bisa terbang akibat erupsi Gunung Agung. Apabila jaminan itu tidak ada ya sulit. Sebab pengusaha kita dualisme di provinsi punya kekuasaan yang bisa memberi jaminan supaya pariwisata meningkat. Nah kalau situasi sudah aman pesawat bisa terbang baru wisatawan akan datang lagi,”pungkasnya.  (don/yut)

Previous Bukaloka Ajak Para Supir Promosikan Pariwisata Bali
Next KRI I GUSTI NGURAH RAI 332 DIRESMIKAN DI PELABUHAN BENOA BALI

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *