Paiketan Krama Bali Workshop Fasilitasi Pendampingan Anak Berkebutuhan Khusus Disambut Antusias


 

Denpsar, suryadewata.com
Permasalahan anak usia sekolah khususnya PAUD, TK dan SD yang mengalami keterlambatan perkembangan atau anak yang berkebutuhan khusus (special needs)  semakin marak belakangan ini. Permasalahan anak tersebut akan berdampak terhadap perkembangan generasi bangsa Indonesia kedepan.

Untuk itu dibutuhkan penanganan yang tepat bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus melalui peran serta para ahli yang berkompeten sedangkan ahli yang berkompeten  tersebut jumlahnya masih terbatas.

Paiketan Krama Bali ikut berpartisipasi memfasilitasi permasalahan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Peran serta dibidang kemanusiaan ini dibuktikan dengan menyelenggarakan “Workshop Fasilitasi Pendampingan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)”.

Workshop ini menghadirkan seorang psikolog dari Jepang, Chisako Higashitani dan mitra kerja yang juga sama-sama dari Jepang.   Workshop kemanusiaan  ini diselenggarakan pada Rabu, 28 Pebruari 2018 di Kampus STPBI-SPB, Jalan Kecak No. 12 Denpasar (Gastu Tengah).

Workshop Fasilitasi Pendampingan Anak Berkebutuhan Khusus ini bertujuan untuk memfasilitasi para ahli untuk menularkan keahliannya kepada para guru dan aktivis anak yang menangani pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Sasarannya adalah meningkatkan pengetahuan para pihak (guru dan aktivis anak) yang menangani anak-anak berkebutuhan khusus sehingga dapat menstimulasi tumbuh kembangnya anak-anak berkebutuhan khusus secara tepat.

Narasumber dalam workshop ini adalah Chisako Higashitani, seorang psikolog dari Jepang dan 3 mitra kerjanya dari Jepang yang sudah sangat berpengalaman ke berbagai Negara untuk memberikan pembekalan kepada para guru bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

Peserta workshop ini adalah para guru dan aktivis yang menangani anak-anak berkebutuhan khusus. Jumlah peserta ditarget 60 orang dari kalangan guru dan aktivis bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Mereka datang dari berbagai kalangan di seluruh Bali.

Ketua Yayasan Widya Ulangun, Dr. I Nyoman Gde Astina, M.Pd selaku tuan rumah menyambut hangat kedatangan para peserta. Astina menyatakan sangat senang mendapat kesempatan dikunjungi oleh peserta workshop dari seluruh Bali.

Ketua Panitia, Jero Jemiwi menyatakan, kita semua bertanggung jawab terhadap perkembangan anak-anak termasuk anak-anak berkebutuhan khusus sebagai generasi penerus bangsa.

Ketua 3 Bidang Pawongan Paiketan Krama Bali I Made Dwija Suastana, S.H, M.H  mewakili Ketua Umum Dr. Ir. Agung Suryawan Wiranatha, M.Sc mengatakan, workshop ini sekaligus sebagai media pengenalan Paiketan kepada komponan masyarakat yang berkaitan dengan anak berkebutuhan khusus. ABK sebagaimana diamanatkan oleh INICEF PBB dan sesuai UU 20 Tahun 2013, telah digariskan bahwa perlindungan kepada anak-anak haruslah secara holistik. Sebagian dari anak-anak itu adalah anak-anak berkebutuhan khusus.

Paiketan Krama Bali sangat concern melakukan kerjasama dengan pemerintah untuk menggugah kesadaran para guru orang tua dan pemerintah agar lebih serius menangani ABK sebagai bagian dari generasi penerus bangsa. Workshop dihadiri perwakilan dari Dinas Pendidikan Provinsi Bali yang diwakili oleh Kabid Pendidikan Khusus, I Made Wididarma sekaligus membuka acara.

Narasumber Chisako Higashitani sekitar 45 menit menjelaskan kondisi psikologis dan perkembangan anak-anak berkebutuhan khusus (AKB). Pemaparan ini lalu dilanjutkan dengan Tanya jawab (diskusi).  Pada sesi Tanya jawab, seorang peserta, Ida Bagus Sudiartha yang juga Kepala SDN 2 Ubung

Denpasar mengeluhkan sampai saat ini sama sekali tidak ada pelatihan yang diselenggarakan oleh pemerintah. Ia berharap, Paiketan Krama Bali mendorong pemerintah agar mau menyelenggarakan kegiatan pelatihan untuk para guru dan pendamping bahkan ABK agar mampu berkembang sejajar dengan anak-anak normal.

Chisako Higashitani menanggapi statement IB Bagus Sudiartha sebagai bentuk complain kepada pemerintah.  Chisako menunjuk sejumlah psikolog untuk membantu kebutuhan dan harapan IB Sudiartha.
Peserta lainnya, Ibu Mastuti menanyakan bagaimana mengatur perkembangan dan ketidakstabilan emosi ABK yang mengalami fluktuatif sangat tajam. Orang tua seorang anak yang mengalami celebervasi keterbatasan mental, emosi, bahasa, dan lain-lain menanyakan solusi yang harus diambil untuk anaknya.

Sebelum dilanjutkan dengan group discussion, acara diselingi dengan relaksasi  yang dipandu oleh Jero Jemiwi. Workshop yang dihadiri sekitar 60 orang peserta dari seluruh Bali ini berjalan dengan lancer dan mendapat sambutan hangat dan antusias dari para peserta dan seluruh undangan yang hadir (*).

Previous Kasi Propam Berikan Semangat Anggotanya Yang Mengalami Sakit
Next Kapolda Bali Tidak Akan Melegalkan Narkoba

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *