YOGA: Antara Filosofi dan Gaya Hidup


SURYADEWATA.COM
Jumlah orang yang berlatih Yoga beberapa dasawarsa belakangan ini sangat signifikan. Seperti Data statistik (https://www.statista.com), pada 2012 di Amerika Serikat orang berlatih Yoga mencapai 20,4 juta orang, dan pada 2015 naik menjadi 36,7 juta orang dan diprediksi pada tahun 2020 mencapai 55,05 juta orang. Dari data statistik yang sama pada 2015 pasar Yoga di sana diperkirakan mencapai  9,09 miliar US Dolar sementara bisnis matras yoga mencapai 11 miliar.

Jenis Yoga yang dipraktikkan adalah akro, hatha, dan yang sejenisnya. Tren ini juga diikuti oleh negara-negara Eropa dan bahkan di seluruh dunia.
Di negara-negara yang penduduknya mayoritas Muslim pun latihan Yoga tumbuh dan berkembang. Hal ini dapat dilihat ketika ditetapkannya Tanggal 21 Juni  sebagai Internasional Yoga Day yang di-launching pada tahun 2016. Sebanyak 47 negara Muslim mengikutinya. Walaupun Majelis fatwa kebangsaan Malaysia (MFKM) yang kemudian diikuti oleh MUI sempat menyatakan bahwa Yoga haram, namun praktik Yoga tetap tumbuh subur, karena pelaksanaannya kemudian disesuaikan dengan cara tidak menampilkan mantra-mantra yang bersumber dari Hindu.

Dibalik itu, banyak kalangan justru khawatir akan pesatnya perkembangan Yoga saat ini. Sebagian orang menilai, Yoga telah melenceng dari teks-teks sumbernya. Yoga menurut literature klasik bertujuan untuk realisasi diri melalui sebuah praktik ketat dan berkesinambungan. Sementara dewasa ini (sesuai data di atas), yoga telah menjadi bisnis besar dan lebih kepada praktik-praktik dengan orientasi fisik semata. Yoga dipahami hanya sekedar senam fisik biasa dengan tujuan untuk kesehatan, kecantikan, fleksibilitas dan yang sejenisnya.

Orang datang ke pusat-pusat latihan Yoga hanya dengan tujuan seperti itu dan mereka menganggap itu sebagai sebuah gaya hidup. Karena begitu kuatnya daya dorong dan daya magnet Yoga, orang merasa bahwa dirinya tidak gaul jika belum ikut Yoga. Banyak lagi orang berlatih Yoga karena ikut-ikutan biar dibilang gaul.

YOGA: Antara Filosofi dan Gaya Hidup, itulah tema Diskusi KAMiSAN di Gedung Pascasarjana IHDN Denpasar, Kamis 26 April 2018. Tampil sebagai narasumber adalah Dr. I Gede Suwantana, M.Ag yang juga dosen Pascasarjana IHDN Denpasar.
Sebelumnya, Diskusi Kamisan ini  pernah berjalan, namun karena sesuatu dan lain hal sempat terhenti.

Ide untuk menghidupkan Diskusi KAMiSAN ini berawal dari gerakan untuk mewarnai Kampus Pascasarjana IHDN agar semarak dengan diskusi akademik. “Suasana kampus sebaiknya penuh dengan obrolan dan diskusi akademik yang mengasah intelektualitas mahasiswa” harap Wakil Direktur Pascasarjana, Dr. Nyoman Yoga Segara, M.Hum. Semangat untuk membuat gerakan itu lalu didukung oleh para aktivis yang juga mahasiswa Pascasarjana IHDN Denpasar. Setidaknya ada lima program studi yang dilibatkan dalam program Diskusi KAMiSAN ini yakni Prodi Magister Ilmu Komunikasi Hindu, Magister  Brahma Widya, Magister Dharma Acharya, Magister  Pendidikan Bahasa Bali dan PS Doktor Ilmu Agama Hindu.

Jumlah peserta Diskusi yang semula hanya ditarget dengan peserta 30 orang kemudian berkat “marketing” gencar dari para aktivis mahasiswa khususnya di Prodi Magister, jumlahnya membludak menjadi sekitar 80 orang. Para peserta ini bukan sebatas kalangan mahasiswa namun juga kalangan praktisi Yoga yang tersebar di Denpasar.

Para peserta sangat antusias mengikuti Diskusi KAMiSAN ini tercermin dari banyaknya pertanyaan dan pembahasan dari para peserta.  Nyoman Yoga Segara berharap, suasana kampus yang semarak dengan diskusi akademik ini patut dan perlu terus dipelihara. Diskusi Kamisan ini mengusung “Mencerdaskan, Mencerahkan”.  Beberapa ide pun bermunculan yakni membuat kelompok Yoga bersama yang diharapkan mampu lebih mengakrabkan, selain mencerdaskan dan mencerahkan.

Diskusi KAMiSAN yang juga dihadiri Ketua 1 Bidang Parahyangan Paiketan Krama Bali, Ir. Ketut Darmika dan sejumlah aktivis Paiketan Krama Bali ini menjadi ajang “kerjasama” lanjutan antara Pascasarjana IHDN Denpasar dengan Paiketan Krama Bali.

Direktuer Eksekutif Paiketan Krama Bali yang juga mahasiswa Prodi Magister Ilmu Komunikasi Hindu IHDN Denpasar, Ir. Nyoman Merta mengaku salute dengan kegiatan tersebut. Ia sangat berharap Kampus IHDN Denpasar mampu melahirkan kaum intelektual yang bukan saja cerdas dibidang ilmu yang ditekuni tetapi juga aware dengan persoalan kemasyarakatan yang sedang melanda Bali khususnya yang berbagai pelecehan terhadap symbol-simbol Hindu. Nyoman siap menjembatani kerjasama antara IHDN dengan Paiketan Krama Bali seperti yang telah dibuktikan ketika menggelar Dialog Publik Pilkada dan Media Massa, 13 April 2018 lalu.

Gede Suantana memaparkan berbagai kajian teks Yoga mulau dari teks-teks kuno sampai dengan teks kekinian terkait dengan fenomena maraknya praktek Yoga di seluruh dunia. Menurut, bila mengacu pada teks Yoga Sutra Patanjali, yang diyakini sebagai teks utama Yoga, praktik Yoga memiliki persiapan-persiapan yang matang. Tanpa persiapan, orang tidaklah mungkin memasuki Yoga.  Sutra pertama Yoga Sutra Patanjali mengindikasikan hal tersebut, “atha yogānusāsanam“ – now the discipline of yoga. Yang menjadi indikasi persiapan Yoga adalah kata “atha” artinya “sekarang”. Para Yogi seperti Iyengar, Swami Siwananda, bahkan Yogi yang sangat kontroversial di India Bhagavan Sree Rajneesh mengatakan bahwa kesimpulan sekaligus awalan dari sebuah praktik Yoga adalah kata “atha” – sekarang. Kata ini tidak hanya sekadar menunjuk waktu yang bertalian dengan masa lalu dan masa depan, melainkan berhubungan dengan sesuatu yang lebih fundamental (ram).

Previous Masyarakat sebagai Komponen Cadangan dalam Pertahanan Negara
Next Edukasi dan Sosialisasi Bahaya Penyalahgunaan Narkoba Sejak Usia Dini

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *