GUBERNUR PASTIKA WARISKAN BUKU “UTANG”, CICIL DENGAN BALI MANDARA


Denpasar, suryadewata.com Gubernur Bali Made Mangku Pastika meluncuran Buku yang berjudul “UTANG” buah karya penulis Emanuel Dewata Oja yang akan diwariskan pada generasi mendatang bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-67 di Denpasar, Jumat (22/6).

Menurutnya, pemilihan judul tersebut yang mengingatkan dirinya yang merasa memiliki utang yang sepenuhnya belum mampu dibayar.

“Bisa dibayangkan, sejak sekolah dasar hingga masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI), termasuk kini dipercaya sebagai Gubernur Bali selama 10 tahun dibiayai oleh negara,” kata Pastika.

Bermula dari pemikiran itu, buku pihaknya terbitkan sebagai bentuk intropeksi diri dan tidak mengaku paling berjasa, karena masih ada orang lain yang lebih hebat.

Biasanya banyak pejabat atau tokoh tertentu dominan menulis prestasi atau pencapain yang diperoleh dan dilakukan selama bertugas.

Namun Pastika justru melihat dari sudut pandang yang berbeda, dimana seorang pemimpin sebagai pelayanan rakyat, meskipun mendapatkan berbagai fasilitas justru itu dinilai menambah utang.

Belum lagi karunia Tuhan Yang Maha Esa, berupa udara (oksigen) yang bebas dihirup setiap saat.

Termasuk alat yang digunakan dirinya untuk menstabilkan detak jantung.

“Itu semua ada orang yang menciptakan, artinya kita selalu berhutang dan tidak sanggup membayar semuanya,” ungkapnya.

Untuk itu, pihaknya mencicil utang melalui program Bali Mandara (Maju, Aman, Damai dan Sejahtera).

Program Bali Mandara merupakan upaya nyata Pemerintah Provinsi Bali dibawah kepemimpinan Made Mangku Pastika untuk meningkatkan taraf hidup rakyat makin sejahtera.

“Program ink khusus ditujukan kepada masyarakat kurang mampu, agar tidak ada kesenjangan antara si kaya dengan si miskin,” ujarnya.

Ia juga mengakui, pihaknya sudah berbuat maksimal namun belum mampu sepenuhnya menuntaskan kemiskinan yang ada di Bali.

Begitu juga mengajak masyarakat Bali menjadi maju dalam menghadapi persaingan global yang semakin kompetitif.

Buku Utang menjelaskan tentang fasilitas gratis selama mengikuti pendidikan, mendapatkan kepercayaan dan kehormatan, kisah sengketa dengan salah satu awak media di Bali, sembilan jam bertaruh nyawa di Mount Elizabert Singapore serta mencicil utang lewat Bali Mandara.

Sementara itu, Ida Pedanda Gede Putra Kekeran memberikan aspresiasi terhadap kesadaran Pastika yang menyadari dirinya yang memiliki hutang.

Hal itu sesuai dengan ajaran Tri Rna (tiga hutang yang harus dibayar) baik kepada Dewa Rna (utang karena telah memberikan jiwa dan nafas yang Ia terima dari pencipta), Pitra Rna (utang kepada leluhur) dan Rsi Rna (utang kepada para maha Rsi).

“Kesadaran ini sejatinya tingkat kesadaran tertinggi sebagai upaya mencapai jalan pembebasan dan membuat karakter rendah hati,” ungkapnya.

Ia mengharapkan, buku tersebut tetap menjadi inspirasi anak muda Bali dan tokoh dunia dalam membawa perubahan manusia yang lebih baik.

Oleh karena buku tersebut banyak menceritakan masa lampaunya dengan segala suka dukanya.

“Sangat bagus bagi generasi muda dijadikan buku referensi dan meningkatkan ketabahan, ketekunan, meningkatkan rasa syukur, membentuk karakter spiritual yang kuat dan bekerja dengan sepenuh hati,” ujarnya.

Upaya itu sebagai bentuk pelaksanaan yajna (korban suci yang tulis ikhlas dalam wujud nyata membayar utang-utangnya. (ART)

Previous Personel Polres Bangli Lakukan Bhakti Sosial Program Jumat Agung
Next 12 Tahun Pimpin Denpasar, Rai Mantra Akui Tak Membangun Wahana Budaya

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *