WMC Tingkatkan Pemahaman Makna “Yajna”


Denpasar, suryadewata.com
Widya Mandala Centre (WMC) meningkatkan pemahaman makna setiap upacara “yajna” yang dilaksanakan umat.

“Upaya ini sebagai bentuk meningkatkan keyakinan umat dalam beryadnya, mengingat telah terjadi perubahan kebiasaan umat, dulunya membuat kini masyarakat dominan membeli,” kata Ketua Panitia “Dharma Tula” Jero Mangku Gede Wayan Karman di Denpasar, Minggu (15/7).

Hal itu disampaikan ketika “Dharma Tula” yang mengusung tema “Memaknai Persembahan untuk Meningkatkan Sradha dan Bhakti” diselenggarakan  di Sekretariat World Hindu Parisad Jln Ir. Juanda No 1 Niti Mandala Renon Denpasar.

Menurutnya, ajang tersebut harus rutin dilaksanakan, sehingga umat dapat memantapkan pelaksanaan yadnya.

Materi juga disampaikan secara beragam disesusiakan dengan kebutuhan sesuai dengan perkembangan zaman.

Apabila ditinjau dari sudut pandang sosial dan ekonomi tuntutan jaman yang semakin komplek membuat umat mulai memandang persembahan menjadi sebuah keharusan yang harus dilaksanakan karena jika tidak dilaksanakan ada kesan dimasyarakat bahwa upacara tidak lengkap dan dirasa kurang sempurna sehingga terkadang kelengkapan dirasa lebih penting daripada makna dari persembahan itu sendiri.

Bahkan dibeberapa wilayah adat hanya orang-orang yang memiliki perekonomian yang dianggap mampu yg hanya bisa melaksanakan ritual-ritual tertentu.

Untuk itu, upacara persembahan yang dilaksanakan cenderung terlihat jor – joran (besar-besaran) bahkan banyak yg terjadi sampai menjual harta benda milik sendiri atau leluhur untuk melaksanakan sebuah upacara persembahan yg hanya didasari oleh keharusan dan kelengkapan dari bagian upacara persembahan itu tanpa mengetahui makna sesungguhnya.

Seiring berjalannya waktu, semakin berkembangnya jaman semakin banyaknya kebutuhan hidup manusia yg harus terpenuhi maka dari itu terkadang umat Hindu saat ini dan generasi muda Hindu yg sibuk dengan berbagai aktivitasnya diluar keagaaman, membuat mereka kurang memahami makna dari persembahan yang dilakukan umat Hindu baik dalam kehidupan sehari – hari ataupun saat upacara keagamaan besar lainnya.

Sementara itu, Pembicara “Dharma Tula” Ketut Donder. Ph.D menambahkan, pihaknya mendukung penyelenggara tersebut.

Oleh karena semakin banyak masyarakat yang sadar untuk melakukan pencerahan dalam suatu kegiatan yang posistif.

Ia juga sekaligus sebagai Sekretaris Jenderal World Hindu Parisad (WHP) Donder mengutip Sastra Suci Veda mengatakan “Apapun yang dilakukan oleh seseorang atau tokoh besar akan diikuti oleh atau dicontoh oleh masyarakat, untuk itu mestinya tokoh-tokoh masyarakat mencontohkan hal yang baik pada masyarakat”.

Dalam pemaparannya Ketut Donder menguraikan secara umum tentang teologi Hindu dan filosofi dihubungkan dengan upakara persembahan dan persembahan merupakan sebuah praktek bertiologi dalam Hindu.

Lebih lanjut Ketut Donder menyampaikan jika seseorang yang ingin mendalami ajaran Hindu mesti mendapatkan pengetahuan dari seorang Guru.

“Pengetahuan itu akan sempurna jika didapatkan dari seorang guru yang bijaksana kepada murid yang mulia, Hasil akhir dari belajar ilmu pengetahuan adalah karakter yang baik,” ujarnya.

Selain itu, NarasumberJero Mangku I Made Dwitayasa, S.Ag., M.Fil.H yang juga Ketua Jurusan Yoga dan Kesehatan IHDN Denpasar yang membawakan materi “Bentuk, Fungsi, dan Makna Upakara Menuju Satvika Yajna”.

Sebagai narasumber kedua Drs. I Ketut Wiana, M.Ag yang akan memaparkan Materi “Makna persembahan menurut pandangan Hindu”. (ART/GAB)

Previous Bersama Babinsa, Siswa-Siswi SMA Pariwisata Saraswati Klungkung Bersihkan Pantai Watu Klotok
Next TIM SAR BERHASIL EVAKUASI NELAYAN YANG TEROMBANG-AMBING DI LAUT

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *