10 Tahun Simakrama Bali Mandara, Era Koster Tergantung Kebutuhan


Denpasar , suryadewata.com
Gubernur Bali Made Mangku Pastika menggelar Simakrama Bali Mandara dengan masyarakat rutin selama 10 tahun.

Kegiatan tersebut biasa dilaksanakannya setiap hari Sabtu pada pekan terakhir tiap bulan. Pastika yang akan mengakhiri masa jabatannya pada 29 Agustus mendatang, ini menggelar simakrama terakhirnya pada Sabtu (28/7) lalu di di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya, Denpasar.

Dalam banyak kesempatan, Pastika mengatakan Simakrama tersebut merupakan salah satu upaya pemerintahannya untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, sebab dalam simakrama itu ada transparansi, akuntabilitas dan partisipasi publik.

Dalam simakrama tersebut, Pastika membuka diri untuk menerima aspirasi bahkan kritikan dan kecaman dari masyarakat.

Dengan konsekuensi seperti itu menurut dia, tidak mudah bagi pemimpin untuk membuat simakrama tersebut.

Dibutuhkan sikap keberanian, kerendahan hati dan kesabaran untuk menghadapi berbagai kritik yang diterima dalam simakrama tersebut.

Ia mengaku hanya dirinya kepala daerah di Indonesia yang berani melakukan kegiatan seperti itu. Dengan simkrama itu ia bisa mengetahui langsung keluhan dan keinginan masyarakat, untuk selanjutntya dicarikan solusi secepatnya.

Apakah Pastika menginginkan gubernur Bali terpilih (Wayan Koster) melanjutkan program simakrama tersebut? Pastika mengaku menyerahkan sepenuhnya kepada Koster.

Menurut dia, jika Koster menganggap Simakrama itu perlu,silahkan dilanjutkan. Sebaliknya, ia tak mempersoalkan jika nanti Koster tak melanjutkan simakrama tersebut.

Hal itu disampaikan Pastika saat dikonfirmasi usai menghadiri Rapat Paripurna Istimewa DPRD Bali dengan agenda Pengumuman hasil penetapan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Bali terpilih oleh KPU Provinsi Bali, Senin (30/7).

Bahkan pihaknya juga sempat menyinggung ketika Simakrama Bali Mandara pada Sabtu (28/7).

Penyeleggaraan acara tersebut termasuk Podium Bali Bebas Bicara Apa Saja (PB3AS) membutuhkan kesiapan mental menerima kritik.

Pada kesempatan itu Wayan Koster dan pasangannya, Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati, ada di samping Pastika.

Ia menolak saat diminta wartawan untuk menyampaikan langsung kepada Koster yang berdiri sampingnya, jika dirinya memang menginginkan simakrama itu dilanjutkan.

“Tak perlu disampaikan (kepada Koster). Tergantung beliau, kalau beliau menganggap itu perlu, silahkan. Kalau tidak, gak apa-apa, karena setiap zaman ada pemimpinnya dan setiap pemimpin ada zamannya. Mungkin tidak perlu bertatap muka, dengan teknologi (memanfaatkan gadget, red) bisa diakomodasi,” kata Pastika.

Dikonfirmasi soal nasib simakrama ala Pastika tersebut, Koster tidak memberikan jawaban yang pasti. Bahkan jawabannya menyiratkan dirinya tidak akan melanjutkan simakrama seperti  yang dilakukan Pastika tersebut.

“Kalau simakrama kan modelnya macam-macam. Itu sesuai kebutuhan,” ujar Koster.

Previous Polsek Kuta Utara Ungkap Penggelapan Sepeda Motor,Pelaku Mengaku Beraksi di Tiga Kabupaten
Next Gubernur Bali Pastika Minta Koster-Ace Tak Andalkan Data BPS

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *