Upacara Mendak Isepan, Ngerorasin Massal Arya Kenurunan


SURYADEWATA.COM
Prosesi mendak isepan di Pura Penyatur Kangin, Desa sibetan, Bebandem Karangasem berlangsung khusuk. Kegiatan ini berkaitan dengan upacara Ngerorasin massal yang akan digelar Pesemetonan Sire Arya Kenuruhan Bali di desa
Sibetan.

Kegiatan ini sudah digelar rutin selama lima kali. Sementara peserta kali ini sebenyak 335 puspa. Per puspa dikenakan biaya Rp 1,5 juta .selain ngerorasin juga ada meotonan dan metatah. Sebelumnya juga telah dilakukan upacara Ngaben massal.

Ketua Umum Pertisentana Sire Arya Kenuruhan Pusat I Wayan Geredeg mengatakan kalau kegiatan ini sebagai bentuk kebersamaan pesemetonan
Arya Kenuruhan dalam melaksanakan upacara. Ini sebagai tanda bakti kepada leluhur. Dengan cara bersama -sama seperti ini akan jauh lebih
meringankan, baik dari segi biaya dan segi penggarapan.
Selaian itu juga untuk menjaga gotong royong dan kebersamaan diantara pesemetonan.

Tahun ini pesrta sedikit turun, ini karena banyak yang waswas kalau kegiatan ini tidak bisa digelar karena kondisi Gunung Agung yang sempat level IV dan sekarang sudah leval III.

Geredeg senidiri mengaku kagum dengan semengat pesemetonan. Bahkan saat mendek isepan kemain sekitar 7000 warga datang.

Sementara itu prosesi mendek isepan usai sembahyang, kemudian dilakukan peed dari Pura Catur Kangin menuju Merajan Arya Kenuruhan, Sibetan.

Menurut Jro Mangku Jati mendek isepan itu diawali dengan tambur yang menandakan kalau sedang ada upacara. Sementara ritual tersebut digelar di Penyatur Kangin karena timur merupakan terbitnya matahari. Sehingga mendapat jalan atau sinar suci Dewa Surya sehingga ada jalan terang.

Upacara ini dipuput Ide Pedanda Istri Buruan dari Geria Kanginan, Sibetan. Sementara tebu yang di arak ada 108 buah tebu dengan daun dan tebu pendek. Angka 108 mlambangkan angka tertinnggi menurut filsafat Hindhu sehingga sang leluhur diharapkan dapat mencapai
tempat tertinggi.
“Mendak isepan itu artinya menjemput Tebu,” ujarnya. Tebu merupakan bahan gula yang akan dipergunakan sebagai pemanis jajanan catur yang akan di buat. Tebu menyimbulkan kalau sari tebu adalah hal-hal yang baik sehingga harus diambil. Sementara ampasnya di buang.
Ini juga melambangkan hidup yang bagus dan positif diambil dan buang hal-hal yang negatif.

Sementara itu Ketua DPRD Karangasem Nengah Sumardi yang hadir dalam upacara tersebut mendorong upacara massal seperti ini. Karena akan sangat membantu umat.

“Harapanya kalau terus dilaksanakan seperti ini akan bisa menekan angka kemiskinan di Karangasem,” ….ujarnya.
Sebab kalau upacara dilakukan sendirian biaya cukup besar sehingga membebani umat.
“Kami di lembaga akan terus mendorong pelaksaan ritual massal seperti ini,” ……. tegasnya.

Previous Upacara "Nganyud " Tahap Akhir Ngerorasin Massal di Dusun Geriana Kangin
Next Prosesi Mendak Sekar Catur dan Mendak Don Bingin Jalan Tiga Kilometer

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *