Penataran Sangging Diikuti Ratusan Peserta Dari Berbagai Daerah di Bali


Denpasar, suruadewata.com
Upakara Metatah salah satu maknanya adalah untuk Memenuhi kewajiban orang tua, untuk beryadnya. Matatah juga merupakan upacara kehadapan Ida Sang Hyang Widhi  sebagai wujud syukur atas anugerah tumbuh kembang anak dari anak-anak menuju dewasa.

Berhubungan dengan Upakara Metatah sangtalah penting diadakan Penataran para Sanggih dalam Metatah. Penataran Sangging ini diikuti 200 para sangging, diselenggarkan di Griya Taman Taman Tonja  jalan Ratna No.69 Denpasar hari Sabtu 26/08/2018

Ida Pinandita Mpu Jaya Acharya Nanda yang hadir oada acara ini menjelaskan  metatah dari segi kelembagaan ada 4 hal yang harus dibahas.

Pertama pengetahuan para sangging harua diberi oengetahuan.

Setelah berpengatuan apa yang harus dikerjakan, bagaimana mengerjakanya dan mengapa harus mengerjakanya atau melakukannya.

Terakhir nilai yang terkandung dalam metatah.
Diharapkan si sangging memiliki modal atau kapital. Inilah konsep mengakui eksistensi seorang sangging tidak hanya sebuak kesing tetapi itu adalah melembaga

Selanjutnya menhargai apapun yang dikerjakan ada penghargaan  berupa value/nilai didalamnya.
Terakhir ada pentaatan kita semua upacaranya bukan hanya sekedar iseng-isengan, masalah tata cara maupun sarana itu sidah termasuk di ilmu pengtahuan…ucapnya

Ida Sira Mpu Dharma Sunu dari griya Taman Pande Tonja menjelaskan menginjak masa dewasa secara hormonal sudah berubah,  sehingga unsur sad ripu perlu di “somya” untuk membentuk karakter “dewasya” memiliki sifat kedewataan,

Pinandita I Wayan Dodi Ariyanta, ketua paguyuban Widya Swara yang juga sebagai panitia dalam kegiatan ini mengatakan “Sangat perlu diadakan Penataran sangging terutama pada aspek kesehatan. Selain  memperhatikan sosio tradisi,  yang harus diperhatikan juga sosio kesehatan.  Terutama dalam kegiatan matatah masal, misalnya  Kegiatan metatah bukan menonjolkan estetika tapi simbolis saja. Kegiatan ini sudah dua kali kami lakukan dan diterima baik oleh masyarakat “.

Mengenai penggunaan kunyit,  carang dadab, tebu, madu, air cendana dan sirih, sebagai disinfektan belum bisa menjawab terutama perkembangan penyakit modern belakangan ini.  Sangat minim penelitian mengenai ini, kami harapkan melalui kegiatan ini mendorong intelektual hindu di bali melakukan penelitian tentang ini,….jelasnya

Pinandita I Wayan Wija ketua panitia, Kegiatan pasraman sangging ini, akan di isi oleh Ida Pandita Mpu Jaya Acharyananda menjelaskan dari aspek filsafat,  Ida Pandita Mpu Istri Jaya Acharyananda menjelaskan dari sisi upacara,  Ida Sira Mpu Dharma Sunu menjelaskan mengenai praktek sangging, Prof. DR. Drs I Made Surada.MA  menjelaskan puja dan mantra, dan Drg Budiarsana menjelaskan tentang kesehatan mulut.

Previous Danrem 162/WB : Satgas PDB Telah Berupaya Maksimal Untuk Masyarakat Lombok
Next Hargai Pejuang Kodim Bangli Laksanakan Bedah Rumah

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *