PEWARNA INDONESIA BERI PENGHARGAAN KATEGORI FIGUR MUDA LIDYA NATALIA SARTONO


Badung, suryadewata.com Persatuan Wartawan Nasrani (PEWARNA) indonesia memberikan penghargaan kepada Lidya Natalia Sartono, atas kontribusinya sebagai tokoh muda dalam membumikan nilai-nilai Pancasila dan merawat keberagaman di Indonesia.

Penghargaan itu diberikan  di hotel Puri Sharon, Seminyak, Bali, Sabtu (25/8/2018). Penghargaan untuk kiprah serupa dengan kategori berbeda juga diberikan kepada puluhan tokoh lainnya dari berbagai daerah di Tanah Air.

“Kami memberikan penghargaan ini kepada para tokoh atas karya, konsistensi, dampak, dan kontribusi mereka bagi perkembangan keberagaman Indonesia. Lidya mendapat penghargaan ini untuk kategori figur muda,” kata ketua PEWARNA Indonesia Yusuf Mudjiono.

Ia menjelaskan, perempuan kelahiran Pala Hilir, Seberuang, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat pada 13 November 1988, itu memiliki rekam jejak yang baik dalam gerakan merawat keberagaman. Kiprah Lidya di tingkat nasional mulai terlihat saat menjabat sebagai Ketua Presidium PP PMKRI beberapa tahun lalu.

“Dia aktif berjuang bersama elemen pemuda lintas agama. Bersama PMKRI dan organisasi-organasi kepemudaan, dia aktif dalam gerakan bersama antarpemuda untuk menumbuhkan nasionalisme, merawar kebhinekaan dan membumikan nilai-nilai Pancasila,” ujar Yusuf.

“Konsistensi dan kontribusi Lidya untuk perkembangan keberagaman di Indonesia tetap diperlihatkannya hingga sekarang,” lanjut dia. Ya, selain sibuk mengajar sebagai Dosen di Jakarta, kini Lidya juga aktif di Vox Populi Institut Indonesia (Vox Point Indonesia). Ia menjabat sebagai Sekretaris Jendral lembaga kajian kebangsaan yang berpusat di Jakarta tersebut.

Yusuf berharap, penghargaan tersebut akan memotivasi mantan ketua PMKRI cabang Pontianak tersebut untuk tetap aktif dalam kerjasama lintas agama di Tanah Air. “Kami berharap pengharagaan ini memotivasi Lidya dalam kerjasama lintas agama. Kita harapkan Lidya tetap hadir untuk mewarnai Indonesia dengan nilai-nilai keberagaman dan Pancasila,” ujarnya.

Lidya menyampaikan terima kasih atas penghargaan tersebut. Ia mengaku terkejut mendapat penghargaan itu. “Terima kasih atas apresisasi Pewarna Indonesia yang memberikan penghargaan dari perspektif figur muda dalam menggaungkan nilai-nilai Pancasila,” ujarnya.

Ia mengaku, nilai-nilai Pancasila telah mengakar dalam dirinya sejak lahir. Kesehariann maupun kiprahnya dalam dinamika sosial kemasyarakatan yang mampu mengamalkan nilai-nilai Pancasila itu terjadi secara alamiah. Ia juga mengaku dirinya tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang menghargai kebhinekaan, dan menjunjung tinggi tolerasi.

“Sejatinya nilai-nilai Pancasila yang saya hayati bukan faktor sengaja, bahkan bukan juga tujuan. Sejak saya terlahir di dunia ini saya sudah menghirup nafas nilai-nilai Pancasila itu sendiri, tumbuh dan berkembang dalam kebhinekaan, tersentuh dalam dinamika toleransi yang tinggi,” ujar Lidya.

Karena sejak kecil hingga kini berada dalam lingkungan yang penuh toleran, tidak memilah yang lain ke dalam perbedaan, Lidya mengaku hidupnya seolah tak berada dalam lingkungan yang penuh keberagaman. Ia memperlakukan mereka tanpa sekat perbedaan, sebagai saudara dalam kemanusiaan.

“Hingga kini saya tidak merasa bahwa diri saya ada perbedaan dengan yang lain. Persaudaraan kita persaudaraan kemanusiaan,” ujarnya.

Menurut dia, keberagaman adalah keniscayaan. Hidup dalam keberagaman itu sejatinya indah. Bersaudara dalam perbedaan adalah sebuah kesempurnaan hidup.

“Kita tidak pernah tahu dan mau untuk terlahir sebagai hal yang beda. Namun rencana sang pencipta yang kekal dan abadi melampaui akal budi manusia. Perbedaan itu harus diterima dengan rasa syukur. Keindahan itu terletak dari beragam warna, dan tentu menjadi indikator penunjang utama kesempurnaan itu sendiri,” kata Lidya.

Selanjut ia mengajak anak muda untuk bersama-sama merawat keberagaman,  memupuk persaudaraan, dan menggaungkan dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila.

“Mari anak muda, jadilah pelopor keindahan keberagaman ini, menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila dalam kebhinekaan, agar persaudaraan kita semakin erat dan bersatu padu dalam bingkai NKRI,” pungkas Lidya.

Akhir tahun lalu, anak pertama dari pasangan Helarius Sartono dan Rosalia Yuliana ini menyita perhatian publik, saat namanya masuk dalam bursa kandidat kuat calon gubernur Kalimantan Barat. Namun, pilihan partai politik jatuh ke calon lain.

Kini Lidya terdaftar sebagai Bakal Calon Legislatif (Bacaleg) partai NasDem untuk DPRD provinsi Kalimantan Barat. (*)

Previous Hargai Pejuang Kodim Bangli Laksanakan Bedah Rumah
Next Dampak Gempa Ban Karangasem Memprihatinkan, Anggota DPR RI Gung Tri Minta Penanganan Serius

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *