Berharap Keagungan Raja Parikesit Spirit Pemimpin Bali, Gubernur Pastika Mohon Pamit


Denpasar, suryadewata.com
Pementasan sendratari kolosal dengan lakon ‘Parikesit Cakraninggrat’ dari cerita itihasa Mahabrata garapan Sanggar Paripurna Bona Gianyar pimpinan I Made Sidia menggambarkan pergantian kepeminpinan Pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Bali Made Mangku Pastika – Ketut Sudikerta yang mengusung Program Bali yang maju, aman, damai, dan sejahtera (Bali Mandara).

Selanjutnya akan digantikan oleh Gubernur dan Wagub Bali Periode 2018-2023 I Wayan Koster-Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati.

Kegiatan pada pemberian penghargaan Bali Mandara Parama Nugraha (BMPN) Tahun 2018 yang diserahkan Gubernur Bali Pastika kepada 6 tokoh yang secara konsisten menyumbangkan dedikasi dan pengabdian untuk daerah dan krama Bali di Denpasar, Selasa (28/8).

Untuk itu, perjuangan kisah keangungan Parikesit yang merupakan cucu dari Pandawa dinobatkan sebagai Raja Hastinapura bersesuaian dengan momentum estapet kepemimpinan Bali yang baru.

Dalam cerita tersebut, Parikesit sudah menemui cobaan hidup walau masih dalam kandungan ibunya.

Ayahnya yang bernama Abimanyu gugur dalam medan perang akibat kecurangan pihak Korawa yang mengunci Abimanyu dalam formasi  Chakrawyuha.

Abimanyu sungguh pandai dalam menembus formasi tersebut. Karena ketika masih dalam kandungan Subadra (ibu Abimanyu), ia mendengar Arjuna (ayah Abimanyu) yang menceritakan cara menembus formasi tersebut.

Sungguh malang, Abimanyu hanya pandai cara menembus  Chakrawyuha, namun belum menguasai cara keluar dalam formasi tersebut.

Abimanyu gugur tepat sebelum Parikesit lahir. Tinggalah Parikesit dan Utari (ibu Parikesit).

Belum kering luka karena sang ayah gugur dalam medan perang, Parikesit yang masih dalam kandungan dan Utari kembali meneggak pil pahit.

Pada pertempuran di hari kedelapan belas, Aswatama dan Arjuna terlibat pertempuran sengit. Pertempuran ini bukan karena  tiada maksud, pertempuran ini terjadi karena Aswatama membunuh lima putera Drupadi (Pancawala) Aswatama juga membunuh Drestadyumna, Srikandi, Utamauja, dan jenderal besar lainnya yang masih hidup.

Arjuna geram dan memburu lalu menantangnya. Pertempuran sengit terjadi karena keduanya sakti dan mahir menggunakan panah. Terpojok, Aswatama memanggil senjata Brahmastra.

Arjuna pun juga namun Ia berhasil dibujuk Krsna untuk mengurungkan niatnya karena jika kedua senjata bertemu maka dunia akan hancur.

Krsna juga membujuk Aswatama. Oleh karena Aswatama belum terlalu menguasai senjata tersebut, Aswatama tidak bisa menarik kembali Brahmastra yang ia bidikkan.

Akhirnya Aswatama memilih untuk mengarahkan Brahmastra menuju janin Utari. Melesatlah Brahmastra tersebut menuju Parikesit yang masih dalam kandungan.

Karena geram, Krsna mengutuk Aswatama agar menderita kusta dan mengembara di Bumi sampai akhir zaman Kaliyuga dengan kulit yang bau busuk.

Senjata tersebut pun membunuh Parikesit yang masih berada dalam kandungan. Atas pertolongan dari Krsna, Parikesit dihidupkan.

Setelah Parikesit lahir, rakyat Hastinapura menyambutnya dengan bahagia.

Rakyat dan keluarga sangatlah bahagia karena Parikesit lah satu-satunya keturunan Pandawa yang berhasil selamat dari Perang Bharatayuda.

Abimanyu, Gatotkaca, dan lima Pancawala semuanya gugur. Di hari kelahirannya, ramalan tentang Parikesit pun muncul.

Resi Dhomya menyampaikan ramalannya kepada Yudistira setelah Parikesit lahir bahwa ia akan menjadi pemuja setia Dewa Wisnu, dan semenjak Ia diselamatkan oleh Bathara Krsna, Ia akan dikenal sebagai Vishnurata (Orang yang selalu dilindungi oleh Sang Dewa).

Resi Dhomya juga meramalkan jika Parikesit akan menjadi pribadi yang menyebarkan kebajikan, ajaran agama dan kebenaran, dan akan menjadi pemimpin yang bijaksana.

Parikesit pun yang menjadi pewaris tunggal diangkat menjadi raja dengan Krepa sebagai penasihatnya.

“Cerita tersebut juga menggambarkan pergantian pemimpin agar mampu melanjutkan  kepemimpinan yang membawa perubahan yang lebih,” ungkap Pastika.

Dunia akan selalu dipimpin dari generasi ke generasi, dimana setiap generasi ada pemimpinnya dengan cara masing-masing.

Dengan itu, Program Bali Mandara yang dipandang baik agar tetap dilanjutkan dan dikembangkan.

Begitu juga sepantasnya melakukan evaluasi dan membuat terobosan dalam upaya meningkatkam kesejahteraan masyarakat.

Mengingat masih ada masyarakat Bali yang kurang mampu, lansia yang perlu mendapatkan perhatian.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika menganugerahkan penghargaan BMPN Tahun 2018
Penghargaan  diserahkan pada acara Malam Penganugerahan BMPN 2018 di Panggung Terbuka Ardha Candra Taman Budaya Provinsi Bali, Selasa (28/8/2018). Acara malam itu terbilang istimewa karena menjadi momen terakhir bagi Gubernur Pastika untuk menyerahkan penghargaan yang telah menjadi agenda tahunan sejak tahun 2014.

Pastika mengatakan bahwa kegiatan malam penganugerahan BMPN 2018 merupakan bagian dari ungkapan rasa syukur seluruh jajaran Pemerintah Provinsi Bali, atas telah dilaluinya seluruh rangkaian kegiatan dan tugas-tugas pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan, selama sepuluh tahun program Bali Mandara.

“‪Malam hari ini‬ adalah kesempatan terakhir saya memberikan penghargaan kepada para tokoh atau pemuka masyarakat, yang secara konsisten menyumbangkan dedikasi dan pengabdiannya untuk daerah dan krama Bali,” ujarnya. Penghargaan ini, ujar Pastika, bermakna sebagai apresiasi tertinggi dari Pemprov bagi mereka yang berdedikasi memajukan Bali melalui bidang pengabdian masing-masing yang sejalan dengan program Bali Mandara.

Lebih jauh Pastika mengungkap, sejatinya masih sangat banyak pemuka masyarakat yang berdedikasi tinggi, serta secara konsisten mengabdi untuk kemajuan Bali. Tanpa mengurangi rasa hormat dan terimakasih kepada semua pemuka dan kelompok masyarakat yang sudah ngayah dengan ikhlas dan sungguh-sungguh selama sepuluh tahun terakhir, tahun ini Pemprov Bali menetapkan 6 orang penerima Bali Mandara Parama Nugraha.

Pastika meyakini, penghargaan ini bukanlah tujuan utama dari para tokoh dan pemuka masyarakat yang telah mengabdi dan ngayah dengan tulus ikhlas. Ia berharap, ke depannya dedikasi dan pengabdian para penerima BMPN terus ditingkatkan sehingga dapat menjadi tauladan sekaligus motivasi bagi seluruh krama Bali untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan.

Kesempatan bertatap muka dengan seluruh pegawai Pemprov Bali dan masyarakat yang memenuhi tribun panggung terbuka Ardha Candra dimanfaatkan pula oleh Pastika untuk mohon pamit.

Karena tepat pada tanggal 29 Agustus 2018, ia secara resmi memasuki masa purna tugas setelah menjalankan pengabdian sebagai Gubernur selama satu dasa warsa.

“Selama 10 tahun, berbagai keberhasilan telah kita raih dan berbagai kemajuan telah kita gapai. Biarlah krama Bali yang menilai hasil pembangunan tersebut. Pada malam hari yang cerah ini, ijinkan Saya mohon diri, karena telah selesai melaksanakan pengabdian sebagai Gubernur Bali. Mulai besok, Saya akan mengabdi kepada Bali, melalui bidang dan swadharma yang berbeda. Jiwa raga saya tetap untuk Bali,” urainya.

Pastika menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh pegawai di lingkungan Pemprov Bali atas dedikasi dan kerja kerasnya dalam mengawal 10 tahun pelaksanaan Program Bali Mandara.

“Terima kasih pula kepada seluruh komponen masyarakat Bali atas dukungan dan partisipasinya, sehingga seluruh program pembangunan, secara umum dapat terlaksana dengan lancar,” ucapnya.

Selain menyampaikan rasa terima kasih, pada momen tersebut Pastika juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh krama Bali dan kepada semua pihak yang selama ini merasa tidak puas, kecewa, tersakiti, mendapat perlakuan tidak adil ataupun perasaan lain karena kekurangannya dalam memimpin pemerintahan dan memimpin jalannya pembangunan daerah.
Pastika menyadari, masih ada program yang belum terlaksana secara efektif dan masih ada program yang belum memberikan manfaat secara optimal bagi masyarakat.

Untuk itu, ia mengajak seluruh komponen terus memantapkan komitmen untuk membangun daerah Bali. Sehingga ke depannya, pembangunan daerah Bali berjalan lebih baik serta tetap memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan seluruh krama Bali.

Ia yakin, dengan semangat kebersamaan dan kerja keras seluruh komponen, masyarakat Bali Mandara akan segera dapat diwujudkan.

Sementara itu, Ketua Panitia Malam Penganugerahan BMPN Tahun 2018 I Dewa Gede Mahendra Putra,SH.MH melaporkan bahwa tahapan penyelenggaraan kegiatan ini sudah dimulai sejak bulan Januari dengan melibatkan berbagai pihak seperti Kelompok Ahli Pembangunan, Organisasi Perangkat Daerah di Lingkungan Pemprov Bali dan masukan masyarakat.

“Tahun ini, kami melakukan seleksi terhadap 33 nama nominator yang diusulkan. Melalui proses seleksi yang cukup ketat dan verifikasi lapangan, ditetapkanlah enam tokoh penerima Bali Mandara Parama Nugraha Tahun 2018,” bebernya. Mereka adalah I Wayan Sidja (Tokoh Seniman), I Nyoman Nuarta (Tokoh Seniman), Pande Wayan Suteja Neka (Tokoh Budaya), ABG. Satria Naradha (Tokoh Pers dan Media), Ketut Bangbang Gde Rawi (Tokoh Astronomi) dan Grace M.Tarjoto (Tokoh Pertanian).

Selain sebagai wujud apresiasi dan penghargaan, penganugerahan BMPN diharapkan dapat memotivasi seluruh komponen masyarakat, khususnya generasi muda untuk berpartisipasi aktif dan konsisten meneruskan pengabdian sesuai keahlian dan kemampuan masing-masing.

Malam Penganugerahan BMPN tahun ini menjadi momen yang istimewa karena menandai sepuluh tahun pelaksanaan Program Bali Mandara. Menandai momen spesial tersebut, Pemprov Bali meluncurkan buku ’26 Tokoh Penerima Penghargaan Bali Mandara Parama Nugraha’.

Buku ini memuat perjalanan hidup serta sumbangsih para tokoh penerima Bali Mandara Parama Nugraha dari tahun 2014 hingga 2018. Selain sebagai bentuk apresiasi dan  penghargaan, buku ini diharapkan dapat menginspirasi para pembaca agar meneladani semangat dan kreativitas 26 Tokoh Penerima Bali Mandara Parama Nugraha.

Malam penganugerahan BMPN 2018 juga dirangkai dengan penutupan rangkaian pelaksanaan Bali Mandara Mahalango V Tahun 2018. Dewa Mahendra melaporkan, Bali Mandara Mahalango V Tahun 2018 telah dilaksanakan dari tanggal 22 Juli s.d. 28 Agustus 2018 di Taman Budaya Provinsi Bali. Selama kegiatan berlangsung, telah dipagelarkan 57 pamentasan seni oleh sanggar/sekaa/yayasan/komunitas seni se-Bali.

Dilaksanakan selama 38 hari, pagelaran kesenian Bali Mandara Mahalango IV tahun 2018 mendapat sambutan positif dari masyarakat. Selain memberi hiburan, event tahunan ini juga bertujuan memberi ruang yang lebih luas bagi budayawan dan seniman untuk mempertunjukkan mahakarya mereka.

Malam penganugerahan BMPN 2018 berlangsung meriah dengan pementasan sendratari kolosal dengan lakon ‘Parikesit Cakraninggrat’.

Selain itu, malam penganugerahan BMPN banjir doorprize dengan hadiah utama berupa dua buah sepeda motor dan sederet hadiah menarik lainnya seperti 5 buah sepeda gunung, 4 buah LED TV, 1 buah hand phone, kompor, microwave, voucher menginap di hotel bintang lima, souvenir dan  goody bag yang berisi bingkisan menarik. (ART)

Previous Predikat WTP Mubazir, Bupati Mas Sumatri Gagal Tuntaskan Ratusan Aset Tanah Tak Bersertifikat 
Next Upacara Pelantikan Penjabat Gubernur Bali

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *