Jaga Kesucian Gunung Agung, Tak Cukup Upakara Saja Tapi Tindakan Nyata Lingkungan


Karangasem , suryadewata.com Penyucian Gunung Agung (Udaya Parwata) tidak cukup dengan upakara saja.

Namun perlu dijaga kelestarian alamnya dengan menjaga lingkungan hutannya dari aktivitas ilegal loging.

“Upaya itu sebagai bentuk implementasi ‘Tri Hita Karana’ dalam menjaga keagungan dari Udaya Parwata,” kata Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda di Karangasem, Senin (24/9).

Hal itu disampaikan ketika “Dharmawacana” usai peresmian Pura Penataran Agung Nangka Linggih Ida Bhatara Gunung Agung di Desa Bhuana Giri, Bebandem Karangasem.

Tempat suci terletak di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III sehingga proses renovasi pura sempat melewati diskusi cukup alot.

Ia mengatakan, Gunung Agung sebagai sumber kehidupan  agar dijaga kelestarian alamnya.

Gunung telah memberikan sumber mata air yang melimpah, material (galian C) maupun keindahan alam yang alami.

Menurutnya, gunung yang melambangkan dari Dewa Siwa yang dikenal sebagai penguasa dunia. Bahkan Dewa Siwa memiliki peranan penting dalam turunnya Sungai Gangga dalam menyelamatkan 60.000 putra Amsuman.

Amsuman, kakek Bhagiratha berusaha mendatangkan Dewi Gangga ke bumi demi keselamatan para pitra, leluhurnya, tetapi sampai maut datang menjemput, keinginannya belum tercapai.

Dilipa, putra Amsuman, ayahanda Bhagirata juga tidak berhasil membawa Dewi Gangga ke bumi sampai akhir hayatnya.

Bhagiratha, cucu Ansuman meninggalkan kerajaannya kepada para menterinya dan bertekad untuk membawa Dewi Gangga ke bumi untuk menyelamatkan para leluhurnya.

Pada suatu ketika, Bhagiratha mendapat penglihatan tentang Dewi Gangga, “Dewi engkau lahir di kaki Narayana. Ketika Vamana Avatata menapakkan kaki tiga langkah sewaktu peristiwa dengan Maharaja Bali, kakinya dibersihkan tujuh resi dan  Brahma menggunakan diri-Mu. Berkahi kami dan rumah kami dengan diri-Mu.”

Kemudian seakan-akan Bhagiratha mendapat jawaban dari sang dewi, “Diriku menghormati upaya leluhurmu dalam beberapa generasi untuk membawaku ke bumi. Akan tetapi kamu tidak mengetahui dampak yang terjadi kala diriku turun ke bumi. Siapa yang kuat menahan kecepatanku? Kemudian, mengapa pula aku harus turun ke bumi? Orang yang berdosa kala mandi di airku akan bersih, dan dosa mereka tertinggal dalam diriku.  Bagaimana aku dibersihkan dari kotoran mereka?” Bhagiratha menjawab, “Duhai Dewi, para resi suci, para penglihat agung, mereka telah melampaui perbudakan karma. Mereka tidak punya pikiran selain Tuhan. Manakala mereka berendam di airmu mereka akan membersihkanmu. Masalah kekuatanmu ketika turun ke bumi, kami akan minta bantuan Mahadewa.”

Sedangkan pada kisah Ramayana Kisikinda Parwa, disebutkan Gunung Agung yang disebut Udaya Parwata yang dikitari oleh puncak-puncak kecil. Disanalah tumbuhnya bunga-bunga yang berwarna kuning dengan pohon-pohon pisang kapuk, lontar dan ijuk. Puncaknya tertinggi bernama Saumana.

Ketika Deva Wisnu mengukur tiga dunia ini dengan tiga langkah kakinya itu pada zaman purwa, beliau menginjakkan kaki pertama di puncak Gunung Udaya itu. Sedangkan kaki yang kedua diinjakkan di puncak Gunung Semeru.

Pada saat rembang tengah hari, Jambudwipa (Pulau Jawa) dapat dilihat dari utara gunung ini. Disanalah tempat para Maharsi seperti Waikhanasa, Walakhila dll. Berkat pertapaan para Maharsi itulah roh-roh disinari Nur-Kebenaran.

Selanjutnya nama Bali dikenal sebagai Bali Dwipa diambil dari Gunung Udaya disebutkan sebagai tempat bertahtanya Maharaja Bali yang dikalahkan oleh Deva Vamana (avatara Visnu).

Dan menurut catatan dari India Kuno yang ditemukan, Gunung Udaya dikatakan sebagai pintu gerbang sorga, tempat terbitnya matahari dan dikatakan timur dunia. Gunung Udaya tidak lain adalah nama lain dari Gunung Tohlangkir, sekarang disebut Gunung Agung.

Maharaja Bali adalah seorang raja yang bijaksana dan berjiwa besar yang dahulu diceritakan dipercaya sebagai penguasa untuk mengelola ketiga dunia Tri Loka.

Dan Beliau tiada lain disebutkan dalam Narayana Smrti merupakan putra dari Raja Pralada yang juga sangat berbhakti.

Sebagai seorang penyembah-murni  Tuhan, Maharaja Bali dahulu diceritakan juga rela menyerahkan kekuasaannya di tiga dunia kepada Deva Visnu dan kemudian akhirnya Beliau menyerahkan kekuasaan pengelolaan terhadap surga kepada Dewa Indra.

Tersebutlah dahulu, sesuai dengan perilaku ayahandanya dalam kisah pendudikan nenek moyang dwipantara disebutkan bahwa; Maharaja Bali suka berderma (memberi sedekah) kepada para brahmana dan orang-orang tidak mampu, beliau juga mendirikan Kahyangan-kahyangan (candi/sebutan saat ini) sebagai tempat persembahyangan bagi rakyatnya.

Bali menyelenggarakan suatu yajna (upacara suci) dan mengundang seluruh brahmana (rohaniawan) di negerinya untuk menghadiri acara tersebut.

Vamana turut serta dan berbaur dengan para brahmana yang telah diundang. Upacara tersebut dipimpin oleh Sukra (Sukracarya), guru para asura.

Saat melihat Vamana, Sukra sadar bahwa Wisnu sendiri telah menjelma ke dunia dalam wujud brahmana katai dan turut menghadiri acara yang diselenggarakan oleh Bali.

Kemudian ia mengingatkan Mahabali agar tidak memenuhi permohonan Wamana, sebab petaka akan terjadi. Namun Bali tidak menghiraukan peringatan gurunya, sebab merupakan kewajibannya untuk melayani tamu undangannya sebaik mungkin, dan ia merasa sangat beruntung bila berhasil menyenangkan Wisnu yang datang pada saat itu dalam wujud brahmana katai.

Bali menyambut Vamana dengan takzim dan menanyakan apa yang dapat ia lakukan untuk memuaskan tamu istimewanya tersebut.

Vamana mengajukan permintaan yang sederhana, yaitu sebidang tanah seluas tiga langkah kakinya. Bali yang merasa permintaan tersebut sangat mudah, segera menjawab bahwa ia bersedia memenuhinya, kemudian ia mempersilakan Vamana melangkah untuk mengukur luas tanah yang ia minta.

Vamana memperbesar ukuran tubuhnya, hingga langkahnya yang pertama menginjak bumi, langkahnya yang kedua berada di langit, dan langkahnya yang ketiga berada di surga. Dengan demikian, Wisnu dalam wujud Wamana melakukan triwikrama, karena langkahnya mampu berada di tiga dunia sekaligus.

Bali merelakan kepalanya sebagai tempat berpijak yang ketiga. Maka Wamana meletakkan langkahnya yang ketiga di kepala Bali sekaligus memberikannya keabadian atas kemurahan hatinya.

Bali tidak mampu berbuat apa-apa, kecuali menyerahkan kekuasaannya di tiga dunia kepada Wisnu.

Dengan demikian, ketiga dunia menjadi milik Visnu lalu menyerahkan kekuasaan terhadap surga kepada Indra.

Sementara itu, Bali dan para raksasa pengikutnya tidak memiliki tempat tinggal lagi sejak Vamana mengambil alih wilayah kekuasaan mereka.

Karena sikap Bali yang dermawan, Wisnu mengizinkannya tinggal di Patala (alam bawah tanah), dan menganugerahkan umur yang panjang kepadanya.

Visnu juga mengubah namanya dari Bali menjadi Mahabali, sebab Ia berjiwa besar.

Dengan demikian, keberadaan Gunung Agung agar dijaga dengan baik sehingga tidak terjadi bencana yang merusak peradaban manusia.

Untuk itu, aktivitas galian C yang dilakukan secara liar juga belum mendapatkan penangan yanga serius oleh pemerintah setempat.

Ketika penulis menanyakan kepada Bupati Karangasem Mas Suamtri juga belum dijawab langkah riil yang dilakukan akibat penambangan liar yang cendrung merusak lingkungan kaki Gunung Agung.

Selain itu, adanya dugaan ilegal loging yang juga tiada ada penegakan dari pihak terkait.

Sedangkan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Provinsi Bali bersama Kbupaten telah melakukan sidak ke beberapa tempat pertambangan galian C benerapa waktu lalu.

Namun hal itu perlu ditingkatkan agar penambangan galian C tertata dan mampu mensejahterakan masyarakat bukan kelompok tertentu saja.

Sementara itu, Dirjen Bimas Hindu Kementrian Agama Prof. DR. I Ketut Widnya mengharapkan, masyarakat Hindu mampu melanjutkan warisan peradaban Gunung Agung menuju kehidupan yang lebih baik.

Untuk hal itu, pihaknya meminta perguruan tinggi Hindu melakukan penelitian menganai alasan para leluhur terdulu membangun Pura di sekitaran Gunung agung.

Ia pun menyebut, Karangasem sebagai pusat peradaban sehingga sekarang harus meneruskan peradaban itu.

“Saya kira banyak pura-pura yang belum kita temukan yang ada di sekitaran Gunung Agung,” ujarnya.

Disamping itu, banyak pura kayangan jagat memang didirikan kabupaten sehingga sesuai dengan tagline “Karangasem The Spirit of Bali”.

Dengan demikian, pemerintah agar serius memperhatikan dan memelihara pura-pura tersebut, dahulunya tugas seorang raja.

Namun saat ini, kerajaan yang sudah digantikan oleh pemerintahan.

Bupati Karangasem Mas Sumatri menyampaikan moment itu  bersejarah mengingat cita-cita leluhur dahulu yang belum bisa menyelesaikan pembangunan pura.

Sedangkan pada saat ini pura dan upacaranya berhasil dilaksanakan.

Pura kahyangan jagat Penataran Agung Nangka sendiri merupakan warisan leluhur yang harus tetap dijaga.

“Cita-cita dari raja dahulu untuk menuntaskan pembangunan Pura belum terwujud, namun baru bisa terwujud tahun ini,” ujar bupati.

Bupati IGA Mas Sumatri juga berharap suport dari seluruh umat Hindu dimana pun berada sehingga kedepanya pura ini bisa dilengkapi. Bupati menyebut, beberapa fasilitas penunjang yang belum dibangun seperti dapur suci, pasraman pemangku atau pinandita,serta parkir sebagai fasilitas kepada pemedek.

“Kami mohon kepada umat hindu dimanapun berada untuk memberikan suport pembangunan kelanjutan pura ini,” ujarnya.

Ketua Panitia Karya Ida Made Alit, mengatakan, upacara dilaksanakan setelah keberadaan Pura Penataran  Agung dilakukan renovasi secara besar-besaran.

Renovasi dilakukan mengingat keberadaan pura belum pernah direnovasi sejak ratusan tahun lalu, atau sekitar abad 17 lalu.

Itupun renovasi berjalan setelah adanua Erupsi Gunung Agung 2017 hingga status masih Siaga (Level III).

“Perencanaannya setelah Gunung Agung berstatus awas,” ujarnya.

Ida Made Alit mengatakan,sebelum menggelar upacara ini, pihak panitia terlebih dahulu melakukan pemugaran pura dengan tidak menghilangkan bentuk aslinya.

Ia disampingi Ketua Panitia II Ketut Ngurah Subrata pun mengatakan,pembangunan Pura berlangsung selama lima bulan.

Namun, rencana pemelaspasan yang direncanakan pada awal bulan September menjadi buyar karena kembali di guncang gempa yang membuat beberapa palinggih mengalami kerusakan.

“Pemelaspasan sempat mundur, namun puncak karya tetap hari ini,” ujarnya lagi.

Puncak Karya mamungkah, Ngenteg Linggih,Padudusan Agung, Mapeselang dan Pedanan di Pura Penataran Agung Desa Adat Nangka, Linggih Ida Betara Gunung Agung sendiri dipuput oleh delapan Pedanda, yakni Ida Pedanda Nyoman Jelantik Dwaja dari Geria Dauh Pasar, Budakeling. Ida Pedanda Gde Wayan Pasuruan dari Geria Kawan, Sibetan. Ida Pedanda Jelantik Karanga dari Geria Karang, Budakeling, Ida Pedanda Gde Pinatih Pasuruan dari Geria Jungutan, Ida Pedanda Gde Jelantik Padang dari Geria Padang Taman Tanjung, Budakeling, Ida Pedanda Gde Wayan Demung, dari Geria Demung, Budakeling, Ida Pedanda Gde Putra Manuaba, Geria Bungaya, Desa Bungaya Kangin, dan Ida Pedanda Gde Ketut Pinatih Pasuruan dari Geria Ulon, Jungutan.  (ART)

Previous Jalin Kebersamaan Kodam IX/Udayana – LVRI Pangdam Kunjungi Para Veteran
Next Danrem 163 Wira Satya Pimpin Sosialisasi Annual Meeting IMF Dan World Bank

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *