Bali Kembali Gaungkan Doa Gema Perdamain, Berbenahi Peradaban Manusia


Denpasar, suryadewata.com

Bali kembali menguangakan perdamaian menyadarkan manusia dalam menjaga yang kehidupan rukun dan harmonis dengan Tuhan, manusia dan alam semestanya.

“Upaya diawali dengan perubahan diri sehingga bencana besar yang merugikan perdaban manusia tidak terulang kembali,” kata Inisiator atau Steering Committee (SC) Gema Perdamaian (GP) Ida Rsi Acarya Waisnawa Agni Budha Wisesanatha di Denpasar, Rabu (3/10).

Hal itu disampaikan ketika press conference Gema Perdamaian dengan menggelar doa bersama di Bajra Sandi Denpasar pada tanggal 6 Oktober.

Menurutnya, beragam sikap buruk yang telah dilakukan manusia telah menimbulkan malapetaka bagi peradaban manusia.

Setelah Erupsi Gunung Agung Tahun 2017, selanjutnya gempa bumi di Pulau Jawa bagaian Barat, Nusa Tenggara (Lombok Utara) maupun Pulau Sulawesi (Palu) tertimpa gempa bumi dan tsunami.

Pertanda itu sudah sepatutnya mampu mengingatkan manusia untuk evaluasi diri.

Dengan menyadari arti penting perdamaian, bukan hanya bergelut pada kehidupan ekonomi dan politik.

“Stop jadi manusia yang kurang baik, pergunakan hati nurani untuk melakukan yang lebih baik,” ujarnya.

Untuk itu, pentingnya melibatkan para orang suci dalam mencari solusi yang perlu ditempuh. Oleh karena nampak ada gejolak alam (Bhuana Agung) dan gejolak manusia (Bhuana Alit) dalam menghadapi Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Hal itu yang sering dilakukan oleh para pendahulu, bahkan mereka begitu sigap dalam mencari solusi apabila terjadi situasi dan kondisi yang kurang normal.

Sementara itu, SC Sudiarta Indrajaya menambahkan, terjadinya tragedi kemanusiaan yang tidak terduga ketika BOM Bali I dan II.

Peristiwa tersebut tidak pernah terbayang terjadi yang sangat mengejutkan di Bali.

Tragedi kemanusiaan yang memilukan ini memerlukan aktivitas yang dapat menciptakan suasana, menyejukan hati dan damai.

Dalam kondisi itu, pihaknya berupaya tetap kuat tegar memegang teguh ajaran benar sebagai nilai hakiki orang Bali yang ramah dan cinta damai.

Dengan demikian, kegiatan GP diharapkan sebagai sarana perenungan yang paling mendalam.

Bali yang sudah dikenal dunia akan keindahan alam, keunikan budaya dan kerahaman orangnya sehingga menjadi daya tarik para wisatawan dunia.

“Kelebihan ini patut kita jaga, bahkan orang lain (orang luar negeri) banyak memberikan apresiasi atas upaya kegiatan GP agar terus dilaksanakan,” ungkapnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ketut Darmika, Gusde Sutawa dan Jero Penjor.

Mereka mengharapkan Bali menjadi contoh dunia dalam menjaga perdamaian. Oleh karena damai itu bentuk yang paling berharga (mahal).

Implementasi dalam masyarakat tidak adanya ulah premanisme, kejahatan, pencurian maupun bencana alam.

Maka dari itu,, kekuatan doa pada hari puncak dapat memberikan vibrasi positif kepada kemajuan peradaban manusia.

Serta memperkuatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan beragam suku, ras, agama dan sumber daya alam (SDA).

Sedangkan, Ketua Panitia GP XVI Kadek Adnyana didampingi Sekretaris Wahyu Diatmika menambahkan, sangatlah terasa bahwa peradaban saat ini berjalan didominasi oleh ego yang dibenarkan oleh arogansi rasionalitas dalam segala wujud ciptanya.

“Manakala kita hening dan berusaha mendamaikan diri, hati nurani dengan halus dan penuh kasih membisikkan bahwa bukan ini yang sebenarnya yang ingin kita ciptakan dan kita cari. Peradaban tanpa damai akan percuma. Damai adalah dasar yang paling hakiki” ujar Adnyana.

Menurutnya, bermodal perdamaian, hidup lebih bermanfaat dan terasa lebih indah.

Damai dengan alam, damai dengan sesama, dan damai dengan sang Pencipta.

Seperti diketahui, pada Tahun 2018 ini perhelatan GP  dilaksanakan yang ke-16 kalinya, puncak acara GP dihelat di lapangan sisi Timur Monumen Bajra Sandhi mulai pukul 16.00 sampai dengan 21.00 Wita.

Acara yang akan melibatkan puluhan ribu orang ini akan dihadiri sejumlah pejabat pemerintah pusat, provinsi, kota dan kabupaten di Bali. Yang tak kalah penting kehadiran para suci, pendeta, biksu, ulama, tokoh – tokoh masyarakat dari berbagai golongan dan agama, konsul-konsul negara sahabat. Para aktivis dari semua agama tak mau ketinggalan.

Mereka akan hadir dari unsur Perkumpulan  Pasraman Indonesia, seniman, budayawan, pelajar, mahasiwa, ormas dan masyarakat lainnya baik lokal maupun international.

Menurut data yang masuk, sampai saat ini yang sudah mendaftar untuk berpartisipasi sekitar 9.281 orang.

Padahal undangan yang disebar hanya 800 lembar. Ini bukti betapa masyarakat memandang penting menggemakan damai.

Acara puncak GP akan diawali  dengan eksebisi keberagaman etnis Nusantara, Carnaval, padayatra, Penganugerahan award putra-putri Ambasador Damai, doa bersama para tokoh semua agama dan hiburan. Pada kesempatan ini seluruh peserta juga akan melakukan Doa bersama untuk saudara-saudara kita di Sulawesi Tengah & Lombok yang dilanda bencana alam.

Sebelumnya,  serangkaian kegiatan telah digelar seperti terlibat dalam _world clean up day_ bersama Suksma Bali, Sarasehan Damai Tokoh Pengusaha Bali bersama HIPMI, IWAPI BKOW, pemilihan Putra-Putri Ambasador Damai bersama STIKOM Bali, dan road show damai ke kampus-kampus.

Kegiatan ini diharapkan mampu memberikan manfaat kepada masyarakat untuk selalu sadar memelihara perdamaian ini ditengah peradaban era milenial saat ini.

Dukungan dari berbagai lapisan masyarakat dan _stake holders_ terus berdatangan termasuk support  teman-teman wartawan media yang sangat aktif mendukung misi Gema Perdamaian ini. Damai itu Indah, Damai itu Upaya. (ART)

Previous Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai Sosialisasi Perluasan Bandar Udara Kepada Masyarakat Kuta
Next Tiga Seniman Muda Dirikan Komunitas Suarshima Mengenang Almarhum Kadek Suardana dan Mari Nabeshima

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *