BPBD Bali Himbau Masyarakat Tetap Waspada Dalam Upaya Membangun Budaya Sadar Bencana.


SURYADEWATA.COM
Tata Ruang idealnya mengakomodir mitigasi bencana, bangunan dibuat agar tahan gempa, konstruksi dan komposisi bangunan di Bali (sejalan dengan asta kosala kosali) telah mengakomodir mitigasi bencana dan tahan gempa.

Tingkat kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana disinyalir masih kurang, tetapi cenderung mulai meningkat setelah adanya Gempa dan diikuti Tsunami Aceh, pengalaman berharga surutnya air laut sesaat setelah gempa, masyarakat yang berduyun-duyun bahkan berlomba-lomba menangkap ikan di pesisir pantai justru menjadi korban dihantam dasyatnya terjangan tsunami.

Idealnya minimal 1 persen dari anggaran baik APBN maupun APBD diperuntukan untuk penanggulangan bencana, tetapi kondisi sekarang ketersediaan anggaran hanya nol koma nol nol nol sekian saja.

Oleh karena itu, perlu kerja sama semua pihak (tri angulasi) dalam penanggulangan bencana yaitu pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, dalam membangun kesiapsiagaan menuju masyarakat sadar bencana bahkan menjadi budaya sadar bencana.

Pemprov Bali melalui BPBD Provinsi Bali, gencar melakukan edukasi kepada publik terutama masyarakat, dalam rangka kesiapsiagaan bencana, tapi mengingat kejadian bencana tidak terprediksi dan tidak dapat ditolak terjadinya, maka disamping paradigma kesiapsiagaan sekarang sudah bergeser mengarah ke paradigma PENGURANGAN RISIKO BENCANA (PRB), artinya ketika bencana terjadi maka langkah utama yang harus dilakukan adalah mengurangi risikonya. Sehingga dalam PRB dikenal dengan _tag line_ “kenali risikonya, kurangi bahayanya”. Hal ini berati bahwa masyarakat diedukasi untuk mengenali tanda-tanda akan terjadinya bencana, dan jika bencana itu terjadi maka lakukan upaya menjauhi bencana itu sendiri yaitu proses penyelamatan diri.

Membangun ketangguhan masyarakat harus dimulai dari diri sendiri, karena di saat terjadi bencana maka diri sendirilah yang pertama bisa memberikan pertolongan (upaya penyelamatan), bukan menunggu bantuan orang lain atau dari pemerintah.

Selama ini peran dari dunia usaha sudah sangat bagus, disamping memberi bantuan material ketika ada bencana, erupsi gunung agung misalnya, juga secara aktif melakukan edukasi secara internal, mulai dari karyawan dan karyawati pada perusahaan tersebut, secara rutin dilakukan pelatihan atau simulasi dalam menghadapi bencana, minimal dengan melakukan pengecekan peralatan kebencanaan yang dimiliki, mengecek tabung apar misalnya atau simulasi gempa bumi yang ditandai dengan membunyikan sirene.

Peran serta dan kesadaran masyarakat menjadi hal terpenting, dalam upaya mewujudkan budaya sadar bencana. Bali yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari Indonesia yang memiliki _ring of fire_ (cincin api), maka potensi bencana terutama gempa bumi dan tsunami sebagai ikutannya (ibarat kakak adik), tidak dapat dihindarkan, pasti akan terjadi tetapi belum ada teknologi yang bisa memprediksi kapan akan terjadinya. Oleh karena itu, kata kuncinya adalah mari kita tetap waspada. (rtn).

Narasumber :
Plt. Kalaksa BPBD Provinsi Bali DEWA PUTU MANTERA, SH. MH. (Kepala Kebangpol Provinsi Bali)

Bisa juga “disandingkan” sbg narasumber pendamping
I MADE RENTIN (Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi)

Previous Prihatin Dengan Saudara Saudara di Donggala, Pemecutan Riders Percayakan Penyaluran Bantuan di Polsek Kuta Utara
Next Bangun Pos Pengamanan di Obyek Wisata, Polres Bangli Siap Amankan Kunjungan Delegasi IMF - World Bank

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *