“Angin Segar” Sektor Pertanian Sambut Penataan Ketersediaan Air


Denpasar, suryadewata.com
Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Bali Ida Bagus Wisnuardhana mengharapkan pengaturan ketersediaan air dalam memenuhi kebutuhan pertanian.

“Air menjadi kebutuhan utama dalam dunia pertanian, apabila sumber daya air tidak ada maka akan sulit menanam tanaman apapun,” kata Wisnuardhana di Denpasar, Selasa (16/10).

Hal itu disampaikan usai pembentukan Tim Penatagunaan Sumber Daya Air oleh Direktur Bina Penatagunaan Sumbet Daya Air  Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Dengan terpilihnya Kepala Bappeda Litbang Provinsi Bali sebagai Ketua Tim Tim Penatagunaan Sumber Daya Air Bali dan Kepala Dinas PUPR Bali sebagai Ketua Harian.

Anggota inti tim yakni  Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Bali, Kepala Balai Wilayah Sungai Bali Penida, Kadis PU Kabupaten/Kota se-Bali, Majelis Utama dan Madya Subak se-Bali, HKTI, Kontak Tani Nelayanan Andalan (KTNA) dan Aspehorti.

Menurutnya, penatagunaan sumber daya air memang penting dilakukan sebagai kebutuhan vital pertanian, disamping dalam pemenuhan kebutuhan domestik.

Mengingat kebutuhan domestik begitu besar dengan banyaknya rumah tangga, hotel dan restoran, maupun kebutuhan industri.

Apabila tidak diatur dengan baik, dikhawatirkan ada perebutan dan tak sejalan dengan visi misi pembangunan Bali.

Ia mendukung penuh pembentukan tim itu, karena menjadi “angin segar” dalam menangani permasalahan air.

Masalah tersbut tidak bisa dilakukan oleh sektor tertentu saja, tetapi dilakukan lintas sektor.

Untuk itu, penggunaan air agar efesien dan hemat, meskipun ada daerah yang berlebih menikmati air namun sebagian besar belum leluasa menikmati karuni tersebut.

Menurunya persedian air dapat diketahui dari sektor pertanian melalui rendahnya luas tanam padi.

Data yang menunjukkan bahwa luas tanam hanya mencapai 143.657 Hektar pada Periode Oktober 2017  hingga September 2018. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya dalam periode yang sama hanya mengalami peningkatan 1,4 persen.

Disamping, lahan pertanian ada alih fungsi lahan sebesar 0,5 persen  atau 400-500 Hektar per tahun.

“Kemungkinan ini terjadi karena stok air menurun, ditambah kepastian produk pertanian belum dapat diandalkan mensejahterahkan keluarga,” ungkapnya.

Maka dari itu, pentingnya adanya penerapan kebijakan dan penegakkan hukum sesuai dengN Peraturan Daerah tengang RTRW. (ART)

Previous Sempat Bingung, Dua Belas Personil Diapelkan Khusus Bekerja Bersama, Berbahagia Bersama
Next Asosiasi Pariwisata Shen Zhen Tiongkok Batalkan Penerbangan Wisatawan Harga Paket Rp198 Ribu Ke Bali

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *