Dewan Minta Pemerintah Turun Tangan Segera Tertibkan Oknum Toko “Shopping” Penjual Paket Murah


Denpasar, suryadewata.com

Masifnya oknum Pemilik Toko “Shopping” yang memberikan jor-joran subsidi  per kepala kepada operator agent di Tiongkok membuat wisatawan diarahkan untuk belanja dan belanja, keadaan sudah sangat mencemaskan masa depan pariwisata Bali.

Permasalahan itu  kembali mencuat belakangan ini yang menjadi sorotan awak media maupun para pemerhati dan jeritan pelaku pariwsata. Termasuk biro perjalanan wisata Bali & guide yang menghandle market Tiongkok karena tidak bisa berbuat banyak
dan harus menjalan jadwal tour yang telah ditentukan.

“Untuk itu pemerintah dan stackholder agar turun tangan segera menyikapi isu ‘hot’ ini dan dibahas hingga tuntas, sehingga pembenahan citra Bali tidak sia-sia” kata Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bali I Ketut Kariyasa Adnyana di Denpasar, Rabu (17/10).

Ia meminta pemerintah agar mengambil sikap tegas dalam menjaga citra Bali yang sudah dikenal mancanegara akan keindahan alam, ramah-tamah dan keunikan seni budaya.

Bukan wisata “shopping” yang saat ini terjadi seperti digencarkan pemilik toko “shopping” bekerja sama dengan operator agent di Tiongkok.

Dikenalnya Bali sejak dahulu karena pegembangan pariwisata yang berbasis seni & budaya. Serta pelayanannya berkelas internasional.

Apalagi Bali baru saja menjadi tuan rumah ajang bergengsi dunia perhelatan International Monetary Fund (IMF) dan World Bank Group (WBG) dari tanggal 8-14 Oktober lalu.

Maka dari itu, peran pemerintah bersama stackholder pariwisata agar duduk bersama membuat standarisasi tata niaga biro perjalanan yang lebih mendalam. khususnya market Tiongkok

Dengan menghasilkan sebuah rancangan Peraturan Daerah (Perda) maupun Peraturan Gubernur (Pergub).

Aturan tersebut untuk melengkapi Perda No 1 Tahun 2010 tentang Usaha Jasa Perjalanan Wisata.

Menurutnya Perda itu masih regulasi secara umum, belum mengatur lebih terperinci dan detail.

Sebaiknya, pemerintah membuat aturan khsusus tata niaga market Tiongkok. Mengingat potensi pasar Tiongkok besar dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonominya melesat.

Upaya itu dalam mencapai target nasional untuk kunjungan wisatawan 20 juta jiwa dengan membebankan Bali sebanyak lima juta jiwa.

Bali yang memiliki pariwisata berkualitas sebaiknya menyasar market yang bekelas berbasis kualitas, bukan pada mengejar kuantitas.

Jika hanya menyasar pada kuantitas justru akan menimbulkan dampak sosial lebih yang buruk maupun memicu kemacetan jalan raya.

Sejatinya, pasar Tiongkok “high end” cukup besar, namun belum mampu didatangkan ke Bali.

“Saya sempat menyaksikan, wisatawan Tiongkok gila-gilaan belanja bahkan antre berbelanja ratusan juta hingga miliyaran datang ke London,” ungkapnya.

Temuan itu diharapkan menjadi referensi dalam menata kembali tata niaga market Tiongkok.

Pemerintah juga diminta menurunkan aparat penegak hukumnya melakukan sidak terhadap toko “shopping” yang disinyalir pemiliknya orang Tiongkok mengatasnamakan orang lokal yang berani menjual barang import dari Negeri Tirai Bambu dan hanya transit atau sample nya Saja yang di jual Karena barang barang yang di beli wisatawan di ambil di tiongkok. (ART)

Previous Ny. Putri Suastini Koster Bawa Pangan Lokal Bali di Lomba Cipta Menu B2SA Tingkat Nasional Tahun 2018
Next Pengiriman Sabhu Masuk Lapas Digagalkan, Polsek Kuta Utara Bekuk Kurir Narkoba

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *