Obok – Obok Toko “Shopping” Tiongkok, Wagub Cok Ace : Bali Sangat Dirugikan, Kami Segera Tindak


Denpasar, suryadewata.com
Setelah sempat ramae, bahwa ada permainan toko – toko yang dimiliki oleh warga Tiongkok (China), dengan praktek seperti mafia untuk menjual murah pariwisata Bali dan memaksa wisatawan untuk membeli barangnya. Akhirnya Wagub Bali Tjokorda Oka Ardhana Sukawati alias Cok Ace langsung sidak, untuk mengobok – obok empat toko induk para perusak citra Bali itu.

Sidak Wagub ini dilakukan tanpa diketahui oleh awak media. Cok Ace sidak didampingi oleh Karo Humas dan Protokol Pemprov Bali Dewa Mahendra, bersama unsur Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Bali dan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI). Setelah sidak berjalan, baru ada info yang menyebutkan Cok Ace melakukan sidak.

Sekitar ‪pukul 13.18‬, sampai di kantor Gubernur dan Cok Ace memberikan penjelasan kepada beberapa awak media. “Kami melakukan sidak, untuk memastikan permainan – permainan itu. Ternyata bukan isu lagi, memang benar dan faktanya memang ada,” ujar Mantan Bupati Gianyar ini kemarin.

Dia mengatakan mendatangi empat toko yang ada di Jalan by Pass Gusti Ngurah Rai. Bagi Cok Ace, tidak asing lagi dengan toko itu, dan pola toko dengan beberapa induk perusahaan itu ada sekitar 10 di Bali. “Kami datangi empat, induknya. Namanya jangan disebut dulu,” kata pelaku pariwisata ini.

Cok Ace menyebutkan, memang benar toko – toko itu menjual barang – barang bukan produksi Bali. Misalnya kasur berbahan karet atau latex. “Aneh juga kok di Bali jual latex, Bali bukan penghasil karet. Dan semua barang – barang dari Tiongkok, jadi ada kemungkinan permainan, menjadi aneh orang Tiongkok kok beli barang Tiongkok setelah berwisata di Bali,” kata pria asal Puri Ubud ini.

Pola cara menjualnya juga, wisatawan itu digiring masuk ruangan. Kemudian wisatawan diminta untuk mencoba kasur itu. “Saya pikir ini pegawai spa, tidur tiduran di latex. Semua barang Tiongkok,” imbuhnya.

Kemudian toko kedua, menjual sutra. Sama polanya, digiring ke satu ruangan untuk mendapatkan penjelasan. Anehnya ditemukan, foto – foto Presiden Indonesia, dipasang seperti Presiden Jokowi, Mantan Presiden SBY. Dengan mengenakan batik, namun batik yang digunakan adalah batik Indonesia. Namun Cok Ace mengatakan, itu digunakan untuk meyakinkan. Bahwa Presiden saja menggunakan kain seperti yang mereka jual. “Tetapi kain yang dijual juga dari Tiongkok, seperti ingin mengelabui, dengan gambar – gambar presiden kita,” sambungnya.

Selanjutnya adalah, toko obat – obatan. Ketika masuk sudah langsung digulung obat – obatnya, kemudian cepat – cepat seperti mau kabur. Obat – obat rata – rata dari China. “Kalau memang tidak ada masalah, kenapa harus panik. Ini mengindikasikan ada sesuatu dalam toko – toko ini, ndak harus segitunya,” ketusnya penuh curiga.

Selanjutnya adalah toko yang menjual Kristal. Juga barang – barang Tiongkok. Ketika masuk sudah langsung semua barangnya mau dilarikan, digulung dan dibungkus. Akhirnya satu pegawainya berhasil diambil. “Megrudugan semua, satu berhasil diambil,” ujarnya.

Dan rata – rata pegawai, asli orang Tiongkok. Jika dilihat penjaga toko, tiba – tiba bisa langsung kerja. Sehingga Cok Ace melihat indikasi banyak ada WNA dengan visa wisatawan malah kerja di Toko – toko milik orang Tiongkok itu.

Yang lebih heboh, lagi ternyata ada stempel toko itu menggunakan gambar burung Garuda, seperti lambing negara Republik Indonesia. “Ini diduga untuk menguatkan, bahwa benar – benar produk Indonesia. Produk kita, hingga stempelnya burung Garuda,” tegasnya.

Setelah empat toko itu dikunjungi. Ada beberapa masalah yang ditemukan. Pertama produk yang dijual dari Tiongkok semua, namun dikesankan adalah produk Indonesia.

Kemudian masalah tenaga kerja, banyak orang asing. Termasuk juga ada penggunaan gambar – gambar presiden dengan baju batik, hingga menggunakan stempel dengan gambar Garuda.

Kemudian dirugikan secara pola pembayaran masih dengan sitem Tiongkok. Sehingga tidak ada devisa masuk ke Indonesia. “Mereka mengaku menggunakan rupiah, namun pembayaran mereka ternyata pakai system Tiongkok kami sempat foto. Pake wechat, jadi tidak kena pajak dan tidak ada devisa masuk,” urainya.

Kemudian yang menjadi aneh, terkait dengan pola belanja dengan pola terkesan pemaksaan. Ini dilakukan untuk bisa mengembalikan subsidi yang mereka lakukan terhadap wisatawan yang masuk Bali dengan murah – murah. “Jadi kerugian bagi Bali, jelas merusak citra Bali. Merusak nama baik Bali, dengan pola seperti ini.

Kemudian kita juga tidak dapat pajak dan lain – lain, termasuk menggunakan simbul dasar negara Burung Garuda menjadi stempel. Bali sangat dirugikan, bahkan Indonesia negeri kita dirugikan,” tegasnya.

Dengan kondisi ini, segera akan mengambil langkah – langkah untuk melakukan penidakan atas masalah ini. Dengan menggandeng semua pihak yang terkait, misalnya seperti Imigrasi dan lainnya. Bahkan Cok Ace mengatakan, beberapa negara sedang mengalami masalah seperti ini. Namun Thailand dan Vietnam sudah ada penanganan serius terkait masalah seperti ini. “Kami tentu akan meniru dan belajar dari negara yang sukses untuk memecahkan masalah seperti ini,” tegas Cok Ace.

Sedangkan Karo Humas dan Protokol Dewa Mahendra mengatakan, ketika mau masuk sempat ada yang menyetop. Seperti menghalang – halangi, namun akhirnya bisa diterobos. “Akhirnya kami terobos masuk, dibilang tunggu – tunggu pak. Kami mau lapor dulu, kami sampaikan dari pemerintah dan kami terobos masuk,” jelasnya.

Ketua Komite Tiongkok DPP Asita Hery Sudiarto memastikan memang toko – toko ini tidak membolehkan wisatawan selain Tiongkok untuk masuk. Tentu karena ada permainan – permainan.

Sebelumnya, Ketua Bali Liang (Komite Tiongkok Asita Daerah Bali) Elsye Deliana, Wakil Ketua Bali Liang Bambang, Sekretaris Bali Liang (Komite Tiongkok Nasional) Herman, Komite Tingkok Nasional
Chandra Salim dan Ketua Komite Tiongkok DPP Asita (Nasional) Hery Sudiarto.
Elsye Deliana menjelaskan, saat ini memang wisatawan Tiongkok kunjungan tertinggi di Bali. Namun ada praktik – praktik yang  terkait Bali dijual murah di Tiongkok sudah menjadi masalah yang sangat mengkawatirkan bagi Bali.

Bali awalnya dijual Rp 2 juta, setelah angka 99 RMB atau Sekitar Rp 2 juta, kemudian turun menjadi 777 RMB sekitar Rp 1,5 juta, kemudian turun lagi menjadi 499 RMB atau sekitar Rp 1 juta dan terakhir sudah sampai 299 RMB sekitar Rp 600 ribu. Dan terakhir sampai Rp 200 ribu, namun penerbangan sekitar 200 wisatawan itu dibatalkan oleh Pemerintah Shenzhen, karena dianggap harganya tidak sehat.
Ini terjadi karena ada permainan besar dari penjual.

Ada pengusaha dari Tiongkok juga yang membangun usaha Art shop di Bali. Dengan jumlah yang sudah cukup banyak di Bali. Toko – toko ini yang mensubsidi wisatawan dengan biaya murah itu ke Bali. Namun mereka nantinya wajib untuk masuk ke toko – toko itu. Namun mereka sudah seperti beli kepala, wisatawan itu wajib masuk toko itu. Seperti dipaksa belanja di sana. Mereka masuk, kemudian membeli barang – barang berbahan Latex, seperti kasur, sofa, bantal dan lainnya.

Mereka dalam lima hari empat malam, selama empat hari hanya masuk toko – toko milik orang Tiongkok juga. Bahkan diduga pembayarannya juga dengan wechat (pola Tiongkok) dengan sistem barcode. Atas kondisi ini citra pariwisata Bali jelek di Tiongkok, dianggap Bali hanya punya toko – toko untuk berwisata.

Atas kondisi ini Gubernur Bali Wayan Koster memastikan ini masalah serius. Dan segera akan mengambil tindakan tegas karena sudah merugikan nama Bali di Tiongkok.
Kondisi ini juga sudah dilaporkan ke Konjen Tiongkok yang ada di Denpasar.

Ketua Komite Tiongkok DPP Asita Pusat (Nasional) Hery Sudiarto, bersama Penasehat Komite Tiongkok DPP Asita Asman dan Chandra Salim, bahwa mereka sudah melaporkan masalah – masalah ini ke Konjen Tiongkok di Bali. Namun sayang Konjen Mr. Gou Hao Dong sedang cuti, karena ada acara. Yang menerima hanya Wakil Konjen Tiongkok di Denpasar Mr. Chen Wei. (Gab)

Previous SENAM AW S3 HADIR DI RENON Terbuka Untuk Umum
Next ASITA Minta Pelaku Pariwisata Jangan Hidup Bergantung Komisi, Setelah Wagub Cok Ace Tinjau Toko “Shopping” Tiongkok

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *