Bali Tuan Rumah GJN 2018, Wagub Cok Ace Harapkan Bhagavad-gita Kembalikan Nilai Luhur


Denpasar, suryadewata.com
Wakil Gubernur (Wagub) Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace) mendukung ajang Gita Jayanti Nasional (GJN) 2018 yang ketiga memilih Bali sebagai tuan rumah.

“Ajang itu mampu mengembalikan nilai-nilai luhur sesuai dengan Bhagavad-gita,” kata Wagub Cok Ace di Denpasar, Jumat (2/11).

Hal itu disampaikan ketika audensi Panitia GJN 2018 yang diselenggarakan Perkumpulan International Society for Krishna Consciousness (ISKCON) Indonesia bekerjasama dengan Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI).

Kegiatan itu mengusung tema “Bersatu Bekerja Menuju Kejayaan NKRI”. Kata “Jaya” di sini sangat bermakna, sebab melingkupi kejayaan negara secara menyeluruh.

Dengan menggelar Gita Edukasi (seminar, gita champion), Gita Aksi (Gita Yoga,  Bakti Sosial), Gita Puja dan Pancak Gita Jayanti Nasional 2018.

Pada kesemaptan itu, hadir Ketua ISKCON Nengah Wijana, Ketua Harian PHDI Pusat Dr Ketut Arnaya, Penasehat Panitia Ir. I Made Amir dan Ketua Panitia GJN 2018
I Made Gede Yagustana.

Menurutnya, pengetahuan Veda Bhagavad-gita dapat dijadikan tuntunan dan pedoman hidup.

Oleh karena, Bhagavad-gita merupakan intisari daripada pengetahuan Veda itu sediri yang diuraikan dengan lengkap.

Kegiatan itu mampu mengaungkan kemuliaan Bhagavad-gita sehingga masyarakat semakin mengenal dan mau mempelajari kitab suci.

Upaya itu dalam memperkuat “srada” dan “bhakti” umat Hindu, generasi muda perlunya penguatan hal-hal tersebut.

“Bali banyak mewariskan implementasi Bhagavad-gita yang disajikan dalam bentuk cerita, tembang dan lainnya, namun kini telah memudar pendidikan tersebut pada dunia sekolah,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Harian PHDI Pusat Dr Ketut Arnaya menambahkan, pihaknya mengajak adanya sinergi pemerintah daerah dengan berbagai organisasi yang konsisten mengaungkan kemuliaan Bhagavad-gita.

Selain mengajarkan, mereka juga menyebarkan pengetahuan suci itu agar masyarakat mendapatkan pengetahuan Veda yang dijadikan pedoman hidup.

Mengingat umat Hindu belum sepeuhnya menyadari pentingnya belajar kitab suci Veda.

“Memiliki saja masih jarang, apalagi membaca dan mempelajari yang lebih mendalam,” ungkapnya.

Namun, kondisi itu agar tidak menurunkan semangat dalam pengabdian memberikan pelayanan yang terbaik kepada umat agar memiliki kualitas hidup yang lebih baik (Better of Life).

Hindu tidak saja kesannya melakukan upacara saja, tetapi pentingnya melengkapi diri dengan tatwa dan susila.

“Bali masih identik dengan Hindu, sebaiknya Bali dapat dijadikan barometer peradaban Hindu dunia,” ungkapnya.

Sedangkan Ketua ISKCON Nengah Wijana didampingi Ketua Panitia GJN 2018 I Made Gede Yagustana mengharapkan ajang tersebut dapat memperkenalkan nilai-nilai universal dari Bhagavad-gita kepada masyarakat luas.

Memperdalam pemahaman Bhagavad-gita dalam rangka mewujudkan persatuan, perdamaian dan kesejahteraan.

Mengimplementasikan nilai-nilai universal dari Bhagavad-gita dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Memaknai Gita Jayanti sebagai momentum untuk menjalin komunikasi dan kerja sama antarumat beragama.

Sekaligus melestarikan budaya dan membangkitkan kreativitas sesuai nilai-nilai universal dari Bhagavad-gita dalam pelaksanaan dharma negara dan dharma agama.

Menurutnya, salah satu bagian dari kitab suci Veda yang paling banyak dibaca dan dimiliki, baik oleh umat Hindu maupun para penggemar filsafat adalah Bhagavad-gita. Bhagavad-gita juga dikenal sebagai Gitopanishad, yang merupakan esensi dari ilmu pengetahuan Veda dan juga salah satu Upanishad paling penting dalam literatur Veda.

Para tokoh dunia yang membaca Bhagavad-gita di antaranya Albert Einstein, J. Robert Oppenheimer, Mahatma Gandhi, Henry David Thoreau, Albert Schweitzer, Hermann Hesse, Swami Vivekananda, Swami Prabhupada, serta masih banyak tokoh besar lainnya. Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno, juga sering sekali membaca dan mendalami Bhagavad-gita.

Bagi beliau, Bhagavad-gita bukanlah sebagai sebuah kitab suci bagi umat Hindu saja, namun secara pribadi beliau juga menjadikannya sebagai pegangan hidup untuk tetap selalu berada dalam kebaikan dan kedamaian.
Bhagavad-gita merupakan Kitab yang menceritakan Sri Krishna memberikan wejangan kepada Arjuna yang ketika itu sedang memimpin perang Kuruksetra.

Namun, pada waktu itu ada keraguan dalam diri Arjuna sehingga Sri Krishna memberikan Arjuna suatu dorongan spiritual agar keraguan yang ada dalam diri Arjuna dapat terkikis habis. Adapun dorongan itu berupa ajaran-ajaran tentang Ketuhanan, tentang manusia, bagaimana manusia seharusnya hidup dan bagaimana manusia dapat mencapai kesempurnaan hidup.

Penyabdaan Bhagavad-gita ini merupakan momen yang sangat penting bagi umat Hindu di dunia karena Bhagavad-gita merupakan sabda kesimpulan dan juga ringkasan dari jutaan sloka-sloka Veda.

Hari pewahyuan Bhagavad-gita dikenal sebagai Gita Jayanti yang diperingati setiap tahunnya oleh jutaan orang di seluruh dunia pada hari ke-11 saat Shukla Paksha (bulan mati menuju purnama) pada bulan Margashirsh yang juga merupakan hari Ekadasi.
Selaras dengan Visi Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) yaitu “Terwujudnya masyarakat yang sejahtera dan bahagia bersumber dari pustaka suci Veda”, kami Perkumpulan ISKCON secara terus-menerus menyosialisasikan pustaka suci Bhagavad-gita. Sebagai Pancama Veda, Bhagavad-gita saat ini tidak hanya dipandang sebagai pustaka suci bagi umat Hindu, namun juga sebagai buku pedoman tentang kehidupan dan filsafat bagi banyak orang.

Pada tahun 2018 ini, Gita Jayanti jatuh pada hari Rabu tanggal 19 Desember 2018. Guna merayakan hari disabdakannya Bhagavad- gita ke dunia ini pada perayaan Gita Jayanti, Perkumpulan ISKCON di Indonesia membentuk kepanitiaan yang dinaungi oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia dan Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama Republik Indonesia. Kepanitiaan tersebut nantinya akan bekerja sama dengan berbagai organisasi Hindu di Indonesia.

Gita Jayanti diharapkan dapat dijadikan momentum untuk mengingatkan kembali kesadaran seluruh masyarakat untuk saling bahu-membahu mewujudkan cita-cita mulia para pendiri bangsa.
Puncak perayaan Gita Jayanti Nasional 2018 direncanakan di Bali, yang merupakan perayaan ke-3 yang kami lakukan secara nasional
setelah 2 (dua) tahun berturut-turut diselenggarakan di Jakarta.

Rangkaian perayaan GJN kegiatan, antara lain Gita Edukasi (Seminar-seminar dan beberapa perlombaan terkait Bhagavad-gita), Gita Aksi (yoga massal, bakti sosial, donor darah dan cek kesehatan), dan Gita Puja bersama di tempat-tempat persembahyangan, serta Perayaan puncak Gita Jayanti. Gita yoga rencana akan dihadiri oleh Presiden R.I. Joko Widodo Perayaan puncak Gita Jayanti akan dilaksanakan pada tanggal 22 Desember 2018 di Gedung Citta Kelangen ISI Denpasar dengan mengundang tidak kurang dari 1.000 orang dari berbagai lembaga/instansi pemerintah, organisasi masyarakat, organisasi keagamaan, organisasi kemahasiswaan, dan tokoh-tokoh masyarakat serta masyarakat luas.

Seperti perayaan Gita Jayanti Nasional tahun-tahun sebelumnya, pada tahun 2018 ini kami kembali berencana untuk dapat bekerja sama dengan berbagai Ormas Hindu (seperti WHDI, Prajaniti, ICHI, KMHDI, PERADAH) serta kampus-kampus berbasis Hindu atau Unit Kemahasiswaan Hindu di berbagai perguruan tinggi di Bali.

Dengan dirayakannya Gita Jayanti pada tahun ini, kami berharap dapat menjadi momentum untuk membangun persatuan, meningkatkan etos kerja, menciptakan perdamaian dan kesejahteraan menuju kejayaan NKRI berdasarkan nilai-nilai universal dari Bhagavad-gita.
Jaya Bhagavad-gita! Jaya Persatuan! Jaya NKRI!. (ART/*)

Previous Gubernur Koster; Mahasiswa Kritis Kontrol Pembangunan Bali
Next Meski Jadi Wagub, Cok Ace Sempat Tarikan Calonarang

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *