International Public Relation Summit (IPRS) tahun 2018 digelar di Bali


SURYADEWATA.COM
Pertemuan para praktisi Public Relation (PR) dunia atau yang bernama International Public Relation Summit (IPRS) tahun 2018 digelar di Bali, bertempat di Hotel Conrad-Bali, dihadiri 200 peserta dari berbagai negara, diantaranya Amerika, Australi, Kanada, Gana, Jepang, dan Indonesia. Senin 5 Nov 2018.

Elizabeth Goenawan Ananto, Ph.D, Selaku Founder International PR Summit Program Director – dari Univeraitas Trisakti, Indonesia, menjelaskan acara ini bertujuan membangun persepsi mengenai perkembangan PR Global, baik secara akademik maupun profesi.

“Tujuan kami adalah mengeksplorasi peluang jaringan global yang mengarah ke kolaborasi di seluruh dunia, berbagi ide dan pengalaman baru dari perspektif negara yang berbeda dan menyebarkan standar kinerja hubungan masyarakat di dunia global, atau paling tidak kita mengetahui standard internasional yang ada dan kita di Indonesia harus menyikapinya” paparnya.

“Yang saya inginkan, kita build road map, Indonesia ingin diakui dunia bahwa di Indonesia ini ada perkembangan mengenai PR, baik secara akademik maupun secara profesi, kami ingin suara indonesia di dengar oleh dunia,” imbuhnya.

Elizabeth, menjelaskan perubahan merupakan akibat perkembangan teknologi informasi, menuntut para pelaku PR untuk lebih proaktif dalam menghadapi perubahan zaman. Namun, ia melihat perkembangan PR di negara berkembang khusunya di Indonesia sifatnya masih reaktif.

“Selama ini perkembangan Public Relation itu lebih bersifat reaktif seharusnya kan proaktif, karena perkembangan citizen jurnalism sekarang yang begitu masif,” ucapnya.

Elizabet juga mengatkan bahwa era disruptive akibat perkembangan teknologi digital seperti saat ini telah membentuk tren baru dan merubah prilaku para stakeholder.

Organisasi atau perusahaan dituntut untuk lebih mengempower PR-nya, sehingga mampu merespon kondisi-kondisi tersebut dengan cepat dan tepat.

” PR itu harus lebih dikembangkan, oleh lembaga atau perusahaannya atau organisasi perlu menyikapi tren perubahan prilaku, perubahan persepsi stakeholder yang begitu beragam dengan adanya teknologi digital ini,” katanya.

“Para praktisi PR-nya juga harus memperluas ilmunya, dan bukan hanya menguasai komunikasi saja, tapi menguasai multi disiplin, menguasai semua aspek yang memberikan kontribusi bagi perusahaan atau organisasinya,” tutupnya.

Previous Indonesia Tuan Rumah Ke-7 Simulasi Respon Bencana Regional ASEAN
Next Aman Berlalulintas Kodim Tabanan Gelar Pemeriksaan Kendaraan

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *