Gerakan Tumpang Sari Solusi Pertanian Bali


Tabanan, suryadewata.com

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Bali Ida Bagus Wisnuardhana mengembangkan penanaman tumpang sari.

“Tumpang sari menjadi solusi pertanian Bali dalam menghadapi berbagai tantangan yang semakin kompetitif,” kata Wisnuardhana di Tabanan, Jumat (8/11).

Hal itu disampaikan ketika acara Gerakan Tanam Tumpang Sari Jagung dan Kedele di Subak Kesiut Kerambitan Tabanan.

Ia mengatakan, budaya tumpang sari untuk mengusahakan tanaman lebih dari satu jenis lahan dalam waktu yang sama.

Dengan keuntungan efesiensi (tenaga kerja, biaya produksi dan lahan), produksi lebih dari satu komuditas, menekan hama penyakit, dan memperbaiki kesuburan tanah

Peningkatan produksi dengan pengolahan tanah yang baik dan pupuk dasar, gunakan bibit unggul dengan mengatur jarak tanam dan menjualnya dalam bentuk hasil.

Untuk itu, perlu saling proaktif berkoordinasi ke dalam kelompok tani dengan para petugas teknis lapangan.

Meningkatkan produktivitas dengan penerapan teknologi maju dan mengamankan tanaman dari ganguan dari hama penyakit dan asuransi usaha pertanian.

Sistem pertanian ini juga akan mengoptimalkan kinerja dan produktifitas petani.

Mengoptimalkan potensi ini perlu dilakukan kordinasi yang saling proaktif antara kelompok tani dengan para petugas teknis lapangan.

Usaha ini didukung penyusunan rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK) sebagai persyaratan memperoleh pupuk bersubsidi.

Pendampingan teknis budidaya dan pengendalian hama penyakit serta untuk memfasilitasi pemamfaatan alat mesin pertanian dan pemasaran hasil.

Subak Kesiut sebagai salah satu dari 228 subak sawah di Tabanan. Total sawah Bali 79.256 Ha meliputi 1.603 subah sawah dendan luas sawah sebesar 21.452 Ha.

Rata-rata tanaman sawah dalam setahun di Bali 150.000 Ha (rata-rata dua kali tanam padi dalam 1 tahun). Rata-rata tanam jagung (16.000 Ha) dan kedele (4.000 Ha).

Tantangan dalam meningkatkan produksi tanaman pangan utama (padi, jagung, kedele).

Luas tanam berfluktuasi karena adanya alih fungsi lahan dan anomali iklim (irigasi). Ganguan hama penyakit tanaman dan relatif terbatasnya tenaga kerja.

Upaya peningkatan
mengoptimalkan pemanfaatan lahan dengan mengembangkan sistem irigasi (dam parit, embung, bendungan), percepatan tanam/panen, pengaturan pola tanam (tumpang sari, pergiliran tanam). (ART)

Previous Wagub Cok Ace Ngayah Nyolahang Topeng Sidakarya di Pura Desa Abianseka
Next Kodim Gianyar Uji Prosedur Tetap Bahaya Kebakaran

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *