Toko “Shopping” Mafia Tiongkok Kini Terima Wisatawan “Drop” Malam Hari, ASITA Harap Pemerintah Tak Dikalahkan Oknum


Denpasar, suryadewata.com

Toko “Shopping” Mafia Tiongkok masih beroperasi meskipun Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies atau Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Bali yang telah mengeluarkan beberapa surat teguran terhadap para travel agar tidak membawa wisatawannya datang kepada tempat-tempat yang dipermasalahkan.

Nampak beberapa agent travel baik yang anggota ASITA maupun bukan anggota tidak mematuhi himbauan tersebut.

“Kami akan menurunkan tim melalukan pengecekan, jika sudah terbukti akan melakukan teguran berikutnya,” kata Ketua DPD ASITA Bali I Ketut Ardana di Denpasar, Minggu (18/11).

Hal itu menanggapi masih membandelnya tiga agent (Bidadari, Golden Horse dan Le Bali) masih membawa tamunya ke toko “shopping” jaringan Onbase. Dua agent trevel merupakan Anggota ASITA dan Le Bali bukan menjadi anggotanya.

“Le Bali belum anggota ASITA Bali. Dua yang lainnya ya anggota ASITA, kami harus punya bukti untuk bisa melakukan teguran berikutnya,” tegasnya.

Selama ini, pihaknya sudah memberikan  surat teguran No: 2640/280.XI/2018 kepada PT My Asia Partner (Golden Horse) pada 5 November yang lalu.

Selain itu, pihaknya juga telah melayangkan surat teguran kepada Pimpinan PT Alam Bidadari Tours. Surat Teguran Nomor 2636/ 276.XI/ 2018 tertanggal 1 November 2018.

Teguran tersebut, merujuk surat DPD ASITA Bali Nomor 2632/274.X/2018 tertanggal 25 Oktober 2018, perihal larangan kerja sama dengan toko-toko yang diduga melakukan berbagai pelanggaran dan praktik bisnis yang tidak sehat.

Pada surat tersebut, pihaknya meminta kepada seluruh anggota ASITA yang menangani pangsa pasar Tiongkok, untuk tidak lagi bekerja sama dengan toko – toko “shopping” yang diduga berpraktek bisnis tidak sehat.

Agent tersebut masih saja bandel, modusnya mereka mendrop tamunya ke toko “shopping” jaringan Onbase pada malam hari.

Wisatawan itu didrop dengan penjemputan bus, mereka parkir jauh dari tempat mereka berbelanja. Setelah selesai tamunya berbelanja baru dijemput kembali.

Untuk itu, pihaknya telah mengusulkan keanggotan PT My Asia Partner dan Bidadari Tour agar dicabut oleh DPP ASITA dan mencabut ijin usahanya.

Disamping itu, pemerintah agar bertindak tegas menututup dan menindah tegas para oknum toko “shopping” berjaringan mafia Tiongkok.

“Menutup toko-toko itu kewenangan pemerintah. ASITA bukan institusi penegak hukum, kalau pemerintah tidak mampu menertibkan atau menutup toko-toko itu yang dapat merusak pariwisata Bali,” tegasnya.

Sedangkan, Ketua ASITA H. Asnawi Bahar mengharapkan, pemerintah tidak dikalahkan oleh kekuatan oknum tertentu yang merugikan kepentingan masyarakat.

“Kalau sudah dikalahkan oleh kekuatan lain maka hancurlah negeri ini,” geramnya.

Begitu juga, Oknum aparat yg bermain harus diusut dan ditindak tegas.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Bali A.A Gede Yuniartha Putra akan melakukan koordinasi untuk menertibakan praktek toko tersebut apabila benar masih beroperasi.

Oleh karena usaha tersebut merusak citra pariwisata Bali yang telah dibangun sejak dulu.

“Saya akan sampaikan ke Satpol PP maupun Dinas Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, termasuk Dinas Pariwisata Kabupaten/Kota ikut memantau usaha pariwisata yang kurang sehat,” tutupnya.

Previous Kapolres Bangli Hadiri Fun Bike 2018 Dalam Rangka Memeriahkan HUT PP Polri ke-19
Next Kumpulkan Pelaku Pariwisata, Gubernur Koster Perintahkan Semua Toko Berjaringan Melanggar Ditutup

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *