Penataan Pedagang Lapangan Renon Terkesan Kumuh, Kepala UPT Benny Membantah


Denpasar, suryadewata.com

Lapangan Renon Bajra Sandi sebagai Kawasan Civic Center menjadi sorotan publik karena akvitas komersialnnya kadang menimbulkan kritikan masyarakat yang sehari-hari menggunakan akvitas olahraga.

Memang lapangan itu telah digemari masyarakat Bali debagai pusat olahraga bersama yang padat pada hari Sabtu dan Minggu.

Bahkan lapangan itu telah dikenal dengan tempat paling nyaman karena tidak diperkenankan pedagang kaki lima (PK5) masuk areal lapangan.

Upaya itu dalam menjamin masyarakat agar nyaman berolahraga karena Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Bali rutin melakukan kontrol.

Nampak belakangan ini, pedagang yang jualan dengan penataan yang kurang baik, sehingga menimbulkan  kesan kumuh.

Bahkan lamanya melakukan pameran, warga mempertanyakan kejelasannya. Aktivitas itu bisa memicu pedagang lain ikut berjualan disana.

Sepatutnya, Lapangan Renon sebagai paru-paru kota harus dijaga dengan baik, bukan hanya mengedepankan kemersial dengan mengorbankan kepentingan publik.

Sementara itu, Kepala UPT Monumen Perjuangan Rakyat Bali I Made Benny mengaku akvitas komersial kawasan Lapangan Puputan Margarana, Niti Mandala, Denpasar (Lapangan Renon) dilakukan sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 11 Tahun 2016 tentang Retribusi Daerah.

“Harga dan sistem sewa sesuai dengan Perda saja. Namun tetap menyiapkan ruang kepada publik,” kata Benny di Denpasar, Rabu (12/12).

Pada kesempatan itu, pihaknya menanggapi keluhan warga terkait pagelaran pameran yang berda di lapangan itu kaitannya dengan acara “Grand Indonesia Open Archery Championship” yang diikuti oleh 700 atlit panahan dari seluruh Indonesia yang berlangsung selama 9-15 Desember.

Ia juga menjelaskan, penyewaan lapangan ada untuk skala kecil, sedang, dan besar.

Paling kecil sewanya Rp2 juta per hari, sedang Rp3 juta dan skala besar sewanya Rp5 juta per hari bahkan sampai Rp10 juta per hari.

“Hasil sewa ini tergantung besar lapangan. Tergantung di areal mana mau dipakai,” jelas Benny.

Pemasukan itu semuanya disetor ke kas daerah sebagai setoran Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Selanjutnya Lapangan Renon akan disediakan free wifi dan charger.(ART)

Previous Gubernur Koster : Segera Diberlakukanya Perda Desa Adat Beragam Masalah di Bali Teratasi
Next Penataan Pedagang Lapangan Renon Terkesan Kumuh, Kepala UPT Benny Membantah

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *