Solusi Pariwisata Bali Dalam Symposium Suksma Bali,


Denpasar, suryadewata.com
Gubernur Bali Wayan Koster diwakili Wagub Bali Tjok Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) hadir sekaligus membuka symposium yang dihadiri sekitar 150 orang ini di Gedung Wiswa Sabha Utama Kantor Gubernur Bali, Rabu, 12 Desember 2018. 

Wagub Bali, Cok Ace mengapresiasi Paiketan Krama Bali telah menggelar acara Suksma Bali. Menurutnya,  ungkapan Suksma Bali adalah sebuah ungkapan yang sangat mulia bahwa kita harus bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan (Parahyangan) dan  kepada masyarakat  Bali (Pawongan) yang telah memelihara Budaya Bal, kepada rakyat Bali  yang telah menjaga Bali secara tulus. Kita juga wajib berterima kasih kepada alam Bali (Palemahan).yang telah eksis sampai saat ini.

Ketua ASITA Bali,  Ketut Ardana menyoroti lemahnya Low Enforcement terhadap para pelaku pariwisata yang nakal. Ia menyayangkan,  walau Gubernur telah mengeluarkan instruksi untuk  menutup toko-toko yang menjual souvenir China, namun toko-toko itu justru mengabaikan instruksi Gubernur. Ia juga menyayangkan paket murah pariwisata yang dijual travel agent China karena merusak citra pariwisata Bali dan Bali sangat dirugikan.

Ia menyarankan, penanganan masalah Pariwista Bali harus terintegrasi. “One Island One Management. Kita sudah bicarakan ini 10-15 tahun lalu. Tapi sampai sekarang kita belum temukan hasilnya seperti apa” keluhnya.

Ia juga menyoroti Pariwisata Bali, apakah mengarah ke kualitas, kuantitas atau campuran keduanya ? Bagaimana menembus target 20 juta,  jika tingkat hunian saat ini ada yang hanya 20 persen.  Ia mengungkap fakta bahwa tingkat hunian baru 60 %, sedangkan 40 % idle. Ia minta pemerintah serius mengatur tarif kamar, jangan ada lagi bintang 3 berharga Rp 200 ribu per malam. Sedangkan di Singapura, hotel ecek-ecek saja saya bayar 1,5 juta per malam. Ia minta pemerintah agar tegas menerapkan aturan.

Peserta dari perwakilan Konsul China mengatakan, teman-teman orang Bali harusnya optimis. Karena Bali ini bukan hanya milik orang Bali atau orang Indonesia. Acara ini bagus untuk merangkul dunia. Untuk itu harusnya gembira, optimis ini prinsip penting yang kami pegang dari generasi ke generasi.

Menjawab keluhan Ketut Ardana, Ketua PHRI Badung,  IGN Rai Suryawijaya, S.E, M.Si mengaku optimis. “Konsep One Island One Management sangat memungkinkan untuk mewujudkan itu karena dukungan kepada gubernur saat ini sangat kuat.  Namun kita perlu payung hukumnya (Perda) dulu” ungkapnya.  Kata pria yang akrab disapa Jik Rai ini,

Pemerintah Provinsi Bali telah menggulirkan program pembangunan infrastruktur. Bandara di Bali Utara sudah pasti dibangun. Sebelum itu, gubernur sudah sampaikan kepastian shortcut. Dps-Singaraja cukup 1,5 jam.
Untuk menciptakan pariwisata yang berkualitas, praktisi pariwisata Bali,

Ricky yang juga Ketua Bali Hotel Association (BHA) menyoroti keadaan di arrival airport “Tolong ada yang mangatur teman-teman driver taxi jangan terus-terus bertanya kepada turis, turisnya mengeluh. Ditanya sampai 20 kali, turisnya marah”. Ini bisa fatal terhadap citra Bali. Airportnya bagus eh suasananya tak nyaman.
Service kepada turis harusnya luar biasa dan tidak semuanya butuh biaya. Ia menyoroti, setiap work plan harus ada yang bertanggung jawab. “Percuma kita bikin work plan tapi kalau tak ada orang yang bertanggung jawab mulai dari planning sampai eksekusi” ujarnya.

Ketua Umum Paiketan Krama Bali, Agung Suryawan menyoroti masalah moratorium yang tidak berjalan. Pemerintah harus  harus berani menstop pertambahan jumlah kamar hotel. Ia memprediksi, sampai tahun 2021  kita tidak perlu menambah kamar. Just stop it !!! “Pemerintah Pak Koster tidak perlu mengeluarkan ijin, barulah kita akan menuju kualitas”. Kita tidak bisa mendapatkan kualitas karena banyak kamar hotel yang kosong. Mereka jual murah, bagaimana mendapat quality ?

Symposium Pariwisata ini diakhiri dengan Deklarasi Stop penggunaan Plastik Sekali Pakai. Koordinator World Clean Up Day,  Darma Suyasa melalui presentasinya memberikan alasan dan pemaparan kenapa deklarasi itu dibuat. Kata Darma Suyasa, perjalanan menuju Bali bebas sampah plastik tentu akan sangat panjang, kita harus memulainya. Bali yang saat ini dikotori oleh sampah plastik merupakan masalah yang sangat mengganggu keindahan Bali.

Panitia Suksma Bali menyebarkan e-fliyer dan video betapa pentingnya mengatasi sampah plastik. “Panitia Suksma Bali, 15 Sept 2018 kami telah melakukan world clean up day hingga melibatkan 27.000 peserta dengan mengumpulkan 13 ribu kilogram sampah organik dan 8 ribu kiloram sampah non organik” ujarnya Darma Suyasa.

Tim Suksma Bali kemudian menawarkan formulasi penanganan sampah plastik setelah menggelar Focus Group Discussion pada 4 Desember lalu yakni  4 C : Clean Commit, Change, Continu dan 2 E : Educate dan Enforce dari pihak pemerintah. Menurutnya, target obyek adalah peralatan dan bahan plastik sekali pakai : plastic bag, sedotan, plastik botol, Sterofoam

Dua puluh Organisasi profesional stakeholder sepakat mendeklarasikan pengurangan Penggunaan Sampah plastik yang mengandung 7 point yang disebut Sapta Kriyamana yakni tujuh langkah nyata yang berdampak positif untuk peningkatan kualitas Pariwisata (quality tourism).  Ketujuh langkah itu adalah :
(1) Mengurangi penggunaan peralatan plastik sekali pakai di tempat usaha dan kegiatan sehari-hari;
(2) Mengganti secara bertahap peralatan dari bahan-bahan plastik sekali pakai dengan peralatan berbahan lain yang ramah lingkungan; (3) Bersama-sama instansi pemerintah, lembaga pendidikan, masyarakat dan media massa melakukan edukasi dan sosialisasi demi terwujudnya Bali bebas sampah plastic
(4) Bersama pemerintah Provinsi Bali mendorong terwujudnya pelaksanaaan pengurangan pengunaan peralatan dari bahan plastik sekali pakai melalui penerapan regulasi dan penegakan hukum secara bertahap
(5) Bersama instansi pemerintah, lembaga pendidikan dan masyarakat melakukan upaya pengurangan penggunaan bahan peralatan dari bahan plastik sekali pakai
(6) Melakukan perubahan perilaku dalam penggunaan dan pemanfaataan peralatan dari bahan plastik sekali pakai
(7) Menjaga keberlanjutan komitmen mengurangi penggunaan peralatan berbahan plastik sekali pakai.

Kedua puluh stakeholder yang ikut menandatangani Deklarasi itu antara lain : PHRI Bali, Paiketan Krama Bali, IHGMA Bali, BVA, ASITA, HILSI Bali, IHKA Bali, IFBE, HPI Bali, PUTRI, BHA, ICA, SIPCO, Ubud Hotel Association, Ubud Home Stay Association.

Ida Rsi Wisesanatha Pembina Paiketan Krama Bali dan panitia Suksma Bali mengharapkan dukungan dari semua peserta yang hadir untuk mendukung Gala Dinner pada 15 Desember mendatang di BNDCC Nusa Dua. (ram).

Previous Jelang Hari Raya, Disdagprin Bali Sidak Pasar Swalayan
Next Berita JarrakPos Bidik Kaum Millineal

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *