ABB-KTH Perhatikan Lansia Karangasem, Presiden WHP Minta Umat Penampahan Galungan Tak Berfoya-foya


Karangasem, suryadewata.com

Bali yang dikenal sebagai Pulau Surga dan menjadi tujuan wisatawa dunia masih belum mampu mensejahterakan masyarakat Pulau Dewata sepenuhnya.

Masih ditemui kantong-kantong kemiskinan, kondisi menyedihkan lagi pada kalangan lanjut usia (lansia) ada yang masih terlantar dimana hidupnya yang tergantung dari pemberian lain.

Kondisi itu mendapatkan perhatian khusus bagi Presiden World Hindu Parisad (WHP) I Made Mangku Pastika yang konsisten mengunjungi para lansia yang terlantar sejak aktif menjadi Gubernur Bali.

Program-program yang digelontorkan yang mengusung “Bali Mandara” pun lebih dominan dalam mengentaskan kemiskinan dan menyasar kepada rakyat kecil.

Untuk itu, pihaknya konsisten mengajak masyarakat Bali agar memperhatikan para lansia tersebut.

Mereka seharusnya mendapatkan perhatian dari lingkungan sekitarnya, untuk mencegah adanya lansia yang terlantar yang terjadi pada sejumlah daerah di Bali.

“Saya akan terus perhatikan mereka yang kurang beruntung, jangan sampai mereka terlantar, bahkan tanpa perawatan,” kata Pastika di Karangasem, Selasa (25/12).

Hal itu disampaikan ketika mengujungi lansia I Made Sareng (65) bahkan menderita cacad, lansia Sareng, Putu Dauh, Sudiada dan Ganti di Kecamatan Rendang, Karangasem.

Kegiatan itu dilakukan rutin, pada kesempatan itu  berkerjasama antara Yayasan Anom Bhakti Bali (ABB) dengan Komunitas Taman Hati (KTH) yang bertepatan dengan penampahan Hari Suci Galungan.

Menurutnya, acara itu merupakan implementasi dari ajaran-ajaran luhur orang Bali maupun sastra suci Veda.

Upaya itu agar dapat melaksanakan ajaran-ajaran dengan tindakan nyata dengan penuh ketulusan dalam kehidupan sehari-hari.

Penampahan Galungan dapat dijadikan momentum membenahi diri dari sikap-sikap kurang baik (Adharma) agar menjadi kebaikan (Dharma).

“Apabila kita belum mampu melakukan hal ini, melawan ‘Adharma’ dalam diri sejatinya belum pantas merayakan Galungan yang merupakan perayaan kemenangan ‘Dharma’ melawan ‘Adharma’,” tegasnya.

Bukan sebaliknya, penampahan Galungan justru melakukan mabuk maupun berfoya-foya (makanan berlebihan).

Sikap itu kurang pantas dicontoh, mengingat masih ada warga Bali yang masih membutuhkan ukuran tangan orang lain. (ART)

Previous 36 Gereja dan 3 Rumah Ibadah di wilayah Hukum Polres Badung Dapat Bingkisan Hari Raya dari Kapolda Bali.
Next Stop Cecerkan Suara Tonja, Sekretaris DPD PDIP Jayanegara Mantapkan Tim Pemenangan Gede Astina

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *