Pemogan Tak Nimati Kue Pariwisata, Caleg Gungde Perjuangkan Perubahan RTRW


Denpasar, suryadewata.com

AA Gede Agung Aryawan ST yang dikenal Gung De asal Desa Pemogan maju menjadi Calon legislatif (Caleg) DPRD Kota Denpasar Dapil Denpasar Selatan dari Partai Golkar nomor urut 2 memperjuangkan perubahan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).

Sementara niat pengembangan pariwisata terhambat oleh Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Bai Nomor 16 Tahun 2009 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Bali tahun 2009-2029 dan Perda Kota Denpasar Nomor 27 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Denpasar Tahun 2011-2031.

“RTRW ini yang menyebabkan masyarakat Pemogan tidak dapat menikmati kue pariwisata karena ditetapkan sebagai daerah penyangga,” kata Gung De di Denpasar, Rabu (23/1).

Desa Pemogan ditetapkan sebagai daerah penyangga pariwisata, namun daerah tetangga yang hanya diapit daerah pariwisata.

Ia menyayangkan, hidup di kawasan pariwisata yang berdekatan dengan daerah wisata Sanur maupun Kuta.

Namun masyarakatnya hidupnya masih kurang mampu, sebagain besar masih bergantung dengan orang lain.

Untuk itu, pihaknya menegaskan pilihannya maju untuk menduduki wakil rakyat, memiliki misi untuk memperjuangkan kepentingan rakyat di wilayahnya.

Sementara selama 10 tahun pihaknya berjuang agar lahan hutan Mangrove yang dikenal dengan Taman Hutan Rakyat (Tahura) seluas 1.300 hektare di wilayah Desa Pakraman Pemogan, Denpasar Selatan, bisa menjadi objek wisata.

Sayangnya, upaya saya mentok karena kendala RTRW Pemogan ditetapkan sebagai desa penyangga bagi wilayah Kuta dan Sanur.

“Andaikata  hutan mangrove itu dikembangkan jadi objek wisata. Bisa saja dibangun hotel, sehingga CSR hotel dapat digunakan membantu masyarakat yang kurang mampu. Dan jika hutan mangrove menjadi objek wisata, nanti ada warga yang menjadi tukang jukung untuk mengajak wisatawan keliling hutan, ada yang berjualan makanan atau menawarkan cendera mata. Nah, artinya ada lapangan pekerjaan bagi masyarakat,” kata Gung De, yang juga Kelian Adat Banjar Sakah Desa Pemogan.

Sekarang ini, lanjut pria yang bercita-cita membangun panti asuhan ini, mayoritas warga hidup dalam garis kemiskinan, atau lebih tepatnya berada di strata kehidupan menengah ke bawah.

Sebagian warga ada yang dahulu menjadi perintis bemo di Kuta, namun sejak diberlakukan otonomi daerah, maka justru warga Pemogan tidak lagi memiliki hak untuk memiliki usaha di tempat tersebut.

“Sampai kapanpun hal ini saya perjuangkan, demi generasi mendatang agar memiliki kehidupan yang lebih baik. Ini yang melatari saya maju agar bisa duduk sebagai wakil rakyat, agar Pemogan bisa menjadi daerah wisata Hutan Mangrove dan kehidupan masyarakat menjadi lebih sejahtera,” tutupnya. (ART/GAB)

Previous Satpol PP Kembali Awasi Perhub Penggunaaan Aksara di Kuta Utara
Next Gathering Royal Tulip Luxury Hotel SpringHill Resort Jimbaran Bersama ASITA, Utamakan Personal Touch bagi Wisatawan

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *