Meneladani Perbedaan, Pemogan Contoh Kerukunan Kebhinekaan


Denpasar, suryadewata.com

Keragaman yang tumbuh subur di Kota Denpasar agar tidak permasalahkan, namun adanya upaya program pemerintah dalam merawat kerukunan tersebut dalam mewujudkan perdamaian.

Hal itu agar dijadikan teladan oleh masyarakat dalam membentuk kolaborasi dan interaksi dalam mengisi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Masyarakat Denpasar agar meneladani kebhinekaan sebagai bentuk bhakti kita kepada orang tua dan pendahulu yang mewariskan nilai-nilai luhur kebangsaan,” kata AA Gede Agung Aryawan dikenal Gung De Nomor Urut 2 Calon DPRD Daerah Pemilihan (Dapil) Denpasar Selatan dari Partai Golkar membangun kota Denpasar dengan perbedaan agama di Denpasar, Jumat (25/1).

Bali mengenal “catur guru”, dimana orang tua merupakan salah “guru rupaka” yang patut hormati.

Untuk keragaman dan kebhinekaan itu sebaiknya dikemas dengan baik.

“Sama halnya di Desa Pemogan pun demikian, sejak dulu sudah ada umat Muslim, Kristen, Budha dan lainnya. Mereka selalu dapat hidup berdampingan yang rukun dan harmonis,” ujar Gung De.

Indonesia memang mengakui enam agama yang sudah menjadi kesepakatan para pendiri bangsa. Hendaknya bersatu dan tidak saling mengganggu, dengan tidak mengingkari konstitusi yang ada.

Pada kesempatan itu, pihaknya mencontohkan, di Balai Banjar Sakah sering digunakan menjadi tempat penyelenggaraan ritual agama lain.

Misalnya, ritual Maulid Nabi. Hal ini sudah berlangsung sejak bertahun-tahun silam, namun tidak pernah ada yang mempermasalahkan dan meributkan.

Malah umat beragama di Pemogan, lanjutnya, sudah terbiasa saling mengundang jika ada upacara atau memiliki ritual tertentu.  Sudah sejak zaman nenek moyang memberi contoh akulturasi budaya.

Hal Itu terbukti dari begitu melegendanya berbagai kebudayaan luar di tanah Bali, misalnya tarian Baris China, Barong Landung, bahkan penggunaan uang kepeng (pis bolong) atau permainan tradisional ceki.

“Semuanya itu mengandung unsur budaya dari luar, yakni China. Tapi tetap bisa padu dan padan dengan budaya Bali. Inilah harmonisasi budaya yang mestinya senantiasa dipertahankan. Lantas kenapa belakangan ada saja yang mencoba mengkotak-kotakkan diri antarsesama warga Indonesia ?. Ini tidak dibenarkan. Karena kita adalah satu dalam kebhinekaan,” ujar Gung De yang juga Kelian Banjar Sakah. (ART)

Previous Pasca Pohon Tumbang, Masyarakat Diminta Lebih Waspada
Next Dandim Jembrana Kembali Serahkan Bantuan Kepada Korban Banjir Bandang.

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *