Wiratmaja Mengajak Generasi Milinial Agar Tetap Melestarikan Budaya Tradisional Leluhur Bali


DENPASAR,suryadewata.com

I Wayan Wiratmaja, SE yang merupakan calon legeslatif (caleg) DPRD Balli dapil Kota Denpasar dari Partai Gerindra nomor urut 1, tanpa memahami  serta memaknai setiap pesan yang terselip dalam ajaran leluhur  Hindu Bali, maka niscaya para generasi muda akan dapat menghayati. Apalagi melaksanakan tradisi sebuah budaya yang adi luhung ini yang mengundang daya tarik wisatawan manca negara ke Bali dengan tidak meninggalkan makna dalam perkembangan milinial.

Kemudia, menurut Wiratmaja, pergantian pemimpin dalam suatu lembaga formal atau nonformal merupakan hal yang biasa terjadi. Suatu kenyataan yang sering terjadi, banyak pemimpin yang menihilkan karya pemimpin yang diganti. Seolah apa yang dikerjakan pemimpin sebelumnya tidak ada nilainya. Kalau hal ini terus berlanjut tentunya akan sulit mewujudkan suatu cita-cita menuju keadaan yang makin baik. Reformasi total disegala bidang hendaknya diartikan untuk mempertahankan, memelihara dan meningkatkan segala sesuatu yang sudah baik dan berhasil diwujudkan.

“Kalau menihilkan segala sesuatu yang telah ada dan membangun segala sesuatu yang baru, hal itu hanya dikenal paham komunis yang terkenal dengan istilah menjebol dan membangun.
Masyarakat Bali mewarisi sifat dan sikap yang positif, pada awalnya Maha Rsi Markandeya yang menyebarkan ajaran Hindu ke Bali, berikutnya Mpu Kuturan walaupun beliau melakukan reformasi ajaran Hindu tetapi tidak meninggalkan atau menghancurkan warisan sebelunnya, umat tetap menjaga, melestarikan bahkan mengembangkan sesuai yang diajarkan oleh Mpu Kuturan,” terangnya.

Wiratmaja menjelaskan pada tahap berikutnya Danghyang Dwijendra atau Danghyang Nirartha juga melakukan penambahan ajaran Hindu, beliau juga tetap memelihara yang sebelumnya, demikianlah budaya kepemimpinan yang diwariskan oleh generasi terdahulu, tanpa merusak ataupun meninggalkan ajaran sebelumnya.

“Dalam ilmu Nitisastra dijelaskan, dalam sistem pemerintahan Hindu kedudukan pendeta istana disebut Purohita sejajar dengan kedudukan raja. Hal ini dijelaskan dalam Nitisastra atau Kautilya Arthasastra bahwa pendeta istana dilantik oleh raja melalui upacara Brhaspati Sawa sedangkan untuk menobatkan raja dilakukan oleh Purohita atau pendeta istana melalui upacara Raja Suya,” jelasnya.

Diumbuhkan, dalam kerajaan Hindu, kitab Vedalah yang menjadi dasar dan pandangan hidup kerajaan. Pendeta istana dan raja wajib bekerja sama secara koordinatif untuk mewujudkan cita-cita veda, mewujudkan  Catur Purusa Artha  sebagai dasar tujuan hidup tiap orang.

“Kalau empat tujuan hidup itu dapat diwujudkan dalam masyarakat hal inilah merupakan dasar terbentuknya  Jagathita didunia dan mencapai Moksatam di alam niskala. Aspek pembangunan mental, moral, dan spiritual Purohito yang lebih menonjol kewenangannya sedangkan pembangunan fisik material atau kemakmuran ekonomi merupakan tugas pokok dari sang raja,” imbuhnya.

Wiratmaja menambahkan, pembangunan inilah yang harus seimbang dan kontinu sampai ketingkat Desa Adat Pakraman diwujudkan, dengan demikian di Desa Adat ada dua pejabat; Parobekel yang bertanggung jawab bidang membangun kemakmuran ekonomi, sosial dan budaya, sedangkan Kelihan Desa Adat berkewajiban membangun bidang kerohanian, serta menjabarkan konsep Widhi Drista.

“Di pulau dewata ada tiga generasi  Guru Besar yang menanamkan ajaran spiritual diawalnya Rsi markandeya mengajarkan pola agraris yang religius dan sampai sekarang ada di merajan keluarga ada bagunan Rong Dua sebagai stana Bhatara Sri Rambut Sedhana dan ada Pura Bedugul  yang sungkemi sampai hari oleh subak seluruh Bali. Pada periode berikutnya datang  Mpu Kuturan menata umat Hindu di Bali,” tambahnya.

Wiratmaja juga menerangkan, kalau Dise
dalam Pesamuhan Agung itu bahwa ketiga kelompok masyarakat Bali mempersatukan dirinya ke dalam satu paham yang dinamakan Tri Murthi, yaitu bahwa Tuhan itu hanya satu, namun mempunyai tiga fungsi yaitu sebagai Pencipta (Brahma), sebagai Pemelihara (Wisnu), dan sebagai Pelebur (Siwa). Paham termaksud sekarang dikenal dengan nama Agama Hindu.

“Untuk menghormati Mpu Kuturan yang telah berjasa mempersatukan umat Hindu di Bali, maka didirikanlah Pelinggih Menjangan Seluang atau Sakaluang. Menjangan Seluang atau Sakaluang karena itu manifestasi dari penyatuan berbagai Sekta Agama, menjadi satu paham yaitu Tri Murthi atau Agama Hindu (Brahma-Wisnu-Siwa),” pungkasnya.

Lebih jauhnya, pelinggih menjangan seluang atau sakaluang dipandang sebagai penyatuan pikiran, pendapat, pandangan atau keinginan keluarga, jadi sebagai lambang persatuan dan kesatuan, serta kerukunan rumah tangga atau keluarga. Kemudian Terakhir datang Danghyang  Nirarta mengajarkan tentang Siwa sidanta dengan mendirikan Padma sebagai stana dari Siwa Raditya dan semua phisik bangunan itu kita warisi hingga kini.

“Dan yang tidak kalah pentingnya adalah ajaran memanusiakan alam, kepada seluruh umat sehingga istilah “Being spiritual is being natural” ungkapan ini sangat sering kita dengarkan dari para penekun spiritual di berbagai negara. Benarkah seperti itu…? Bila ditelusuri lebih dalam, memang sesungguhnya kembali ke alam itu yang membuat kita menjadi damai dan tenang,” paparnya.

Wiratmaja juga mengatakan bahwa angin yang sejuk, hamparan tetumbuhan yang menghijau, gemericik air jernih sungai di pegunungan, kicauan burung yang merdu dengan beraneka lagu dan nada, tidak bisa kita pungkiri telah membangun kenyamanan, menciptakan ketengan pikiran dan kedamaian di hati.

“Tak heran bila banyak para pelancong rela berkunjung ke negara-negara yang jauh dari negerinya demi mendapatkan suasana baru, yang memberikan kenyamanan Back to the nature,” katanya.

Mungkin ini pula alasan kenapa Candi, Pura/Temple dibangun di tempat-tempat yang Indah dan hijau, dipuncak gunung, di tepi pantai, di pinggir sungai atau danau. Hal ini pun saya rasakan sendiri, ketika berada di pura luhur Lempuyang misalnya; melihat hamparan hutan menghijau yang luas, samudra yang membiru membentang di hadapan kita, langit yang cerah dengan sinar mentarinya yang demikian kuat menyapu kegelapan menerangi maya pada ini, membuat saya merasa sangat kecil, seluruh ego tersedot habis digantikan dengan perasaan lain yang sangat nyaman yang sangat sulit dilukiskan dengan kata-kata, mungkin ini yang disebut cinta dan kasih murni.

Demikian pula halnya Agama Hindu, dalam setiap ajarannya selalu mengajarkan kedamaian, dekat dengan alam, mempersembahkan aneka hasil alam kepada Hyang Maha Kuasa, menghormati semua unsur di alam ini. Mulai dari tetumbuhan dengan adanya tumpek wariga, hewan ada tumpek kandang, alat-alat atau senjata/perkakas, tumpek landep, buku/pustaka ada hari saraswati, semua energi atau mahluk-mahluk bawahan yang tampak maupun tidak tampak yang dikenal dengan butha yadnya. Menjaga keharmonisan dengan Tuhan dengan upacara Deva yadnya, dengan menjalin harmonisasi dengan sesama manusia ada upacara Rsi Yadnya, Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya, melalui sila karma, pesantian, menyama braya.

“Ketiga hubungan harmonis ini di Bali dikenal dengan Tri Hita Karana, tiga keharmonisan yang membawa pada suasana kebahagiaan. Yang dituangkan dalam lontar Sundari Gama, sehingga umat juga dapat melakukan refreshing atau wisata spritual setiap 210 hari / 6 bulan sekali dengan konsep Nyegara-Gunung sebagai bentuk Metirta Yatra,” pungkasnya.

Selanjutnya, Wiratmaja juga memaknai tentang  Ajaran hindu mengajarkan kesejukan serta toleransi yang sangat tinggi dengan mencari mata air atau melukat sehingga perasaan sejuk nyaman damai dapat kita rasakan setelah melukat, bukan hanya mencari mata uang yang akhirnya meneteskan keringat bahkan air mata bila tidak kesampaian tujuannya, dengan demikian marilah sebagai generasi pewaris agar dapat mewariskan kembali ajaran luhur ini. Om Shanti Shani Shanti Om. Bud

Previous Pangdam IX Udayana Dan Bupati Bangli Apresiasi Pelaksanaan TMMD Ke 104 Di Desa Peninjoan Tembuku Bangli.
Next Waka Polres Badung : Lakukan Tugas Dengan Baik Dan Mudah

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *