Akomodir Permintaan Masyarakat, PGAM Gelar Upacara Warak Kruron ke-2

Gianyar, SuryaDewata – Pasraman Griya Ageng Mas kembali gelar upacara Warak Kruron di Pantai Masceti, Keramas, Gianyar (1/12).

Warak Kruron identik dengan upacara bagi mereka yang mengalami keguguran. Khususnya di Bali, keguguran bukanlah hal sepele. Kondisi tersebut perlu diperhatikan karena pengaruhnya terkait dengan rasa nyaman dalam kehidupan begitu besar. Bahkan, dapat menimbulkan rasa kurang percaya diri, selalu resah, bingung, kacau dalam suatu pekerjaan bahkan sulit untuk mendapatkan keturunan bagi ibu atau calon ibu yang keguguran atau menggugurkan. Maka dari itu, untuk menetralisir dan mengharmoniskan gangguan negatif yang selalu menghantui, solusinya adalah melakukan peruatan bagi ibu yg mengalami keguguran dan si suami, begitu juga penyucian janin (masih berupa gumpalan darah) yang jatuh ke bumi (Pertiwi).

Ada tiga tingkatan proses upacara yang dipuput (dibawakan) pada upacara tersebut.

Yang pertama yaitu Warak Kruron. Bagi yang keguguran/menggugurkan kandungan masih berupa embrio, atau umur kandungan sebelum satu sampai empat bulan, disarankan melakukan proses penyucian/peruatan lewat upacara Warak Kruron. Yang diupacarai pada prosesi ini adalah ibu dan bapaknya, ditambah dengan penyucian Ibu Pertiwi di mana darah itu jatuh. Tempat pelaksanaanya bisa di sesuaikan dengan kondisi masing – masi g, bisa di pekarangan rumah, di Griya sulinggih, di perempatan maupun di pantai/laut.

Upacara Warak Kruron dipuput oleh Pandita Mpu Nabe Siwa Agni Daksa Nata, didampingi Ida Pandita Mpu Siwa Darma Murti

Kemudian, yang ke dua, yaitu Ngelangkir. Pada tahap ini keguguran terhadap kandungan terjadi pada kurun lima bulan sampai umur sebelum kepus pungsed (lepas tali pusar). Berlqku juga pada bayi pada saat sebelum nyambutin atau tigabulanan. Disini yang diupacarai adalah sang janin dan kedua orangtuanya.

Yang terakhir yaitu Ngelungah. Ini betlaku bahi bayi mulai saat setelah lahir hingga mencapai umur sebelum ketus gigi (gigi tanggal pertama kali). Fokus upacara sama dengan  Ngelangkir, ditambah dengan proses nganyut ke laut.

Upacara yang sama pernah digelar di tempat yang sama pada tanggal 21 Juni 2023 yang lalu. Hanya saja, peserta yang terlibat saat ini tidak sebanyak tempo hari. “Peserta Warak Kruron sekarang mencapai 37  Sawa,  akumulasi dari peserta tunggal dan multi-sawa,” ungkap ketua Pasraman Nyoman Sumerta lugas.

Ketua PGAM, Nyoman Sumerta (tas selempang hitam), pantau jalannya prosesi

Beliau juga menambahkan jika upacara kali ini bukanlah murni agenda Pasraman, tapi lebih pada permintaan masyarakat. “Ada beberapa orang yang datang ke kami untuk dilaksanakannya Warak Kruron. Mungkin mereka mengalami situasi mendesak, kemudian kami sanggupi. Awalnya, kami akan jalan dengan bebrapa peserta saja. Tapi informasi yang berkembang dari mulut ke mulut membuat jumlah peserta kian bertambah. Bahkan, ada yang menyatakan ikut pada hari terakhir kemarin,” tambahnya rinci.

Berkaca dari pengalaman ini, maka kedepannya, Pasraman  akan terbuka untuk permintaan ritual apapun dari masyarakat. Malah, menurutnya, lebih mudah menjalani permintaan seperti ini daripada membuat agenda sendiri.

Disamping ketua, hampir semua tokoh Pasraman hadir dalam acara ini, diantaranya, wakil ketua JM Nyoman Sutaya; JM Istri Misi selaku sekretaris; dan, JM Gede Wirawan selaku bendahara. Perwakilan dari Yayasan Bhumi Bali Swari, JM Ketut Trikaya Wijaya Manik (ketua), bersama Made Karma (wakil ketua), turut menyaksikan jalannya acara.

Alunan kidung suci iringi prosesi upacara Warak Kruron

Dibawah bayang – bayang mendung tebal, upacara Warak Kruron ini dipuput (dibawakan) oleh sulinggih internal Pasraman yang sekaligus merupakan pembina Yayasan, yaitu Ida Pandita Mpu Nabe Siwa Agni Daksa Nata, didampingi Ida Pandita Mpu Siwa Darma Murti.

Gelaran upacara Warak Kruron ini dimaksudkan pula untuk meringakan beban para peserta. Bagaimanapun, upacara keagamaan yang dilakukan secara masal akan selalu lebih murah daripada digelar secara pribadi. Para peserta hanya dipungut biaya dasar senilai Rp. 600,000. Dan, mereka hanya perlu menambah Rp. 300,000 untuk Sawa (janin/bayi) ke dua). Oleh karena itulah, walaupun waktu pelaksanaannya cukup ketat, pesertanya selalu diatas tigapuluhan.

Mereka dari Pasraman tidak berharap terjadi banyak keguguran sehingga upacara Warak Kruron selalu membludak. Yang terpenting adalah keterbukaan masyarakat ketika mengalami keguguran. Jangan ditunda, apalagi diembunyikan, segera lakukan upacara Warak Kruron dengan cara apapun: secara pribadi di rumah maupun melaui jasa Pasraman.<>

Related Posts