SuryaDewata, Denpasar | Perwakilan BKKBN Provinsi Bali terus gencar dalam melaksanakan Advokasi dan mencari dukungan untuk percepatan penurunan Stunting di Provinsi Bali.   Pada Kamis, 17/2, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali, dr. Ni Luh Gede Sukardiasih mendatangi kantor Dinas Komunikasi, Informasi dan Statistik untuk melakukan audiensi, dalam rangka menguatkan komitmen dari berbagai lintas sector untuk mendukung program penurunan stunting. Audiensi diterima langsung oleh Kepala Dinas Komunikasi, Informasi dan Statistik Provinsi Bali, Gede Pramana, ST.MT.

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali, dr. Ni Luh Gede Sukardiasih menyampakan bahwa dalam mewujudkan Nangun Sad Kerthi Loka Bali, dibutuhkan penduduk Bali yang unggul, yang tentunya harus bebas dari Stunting. Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh kembang anak yang disebabkan karena kekurangan gizi kronis yang berlangsung dalam waktu yang lama.

Lebih lanjut dijelaskan kondisi stunting di Provinsi Bali saat ini termasuk paling rendah di Indonesia, berdasarkan SSGI tahun 2021 berada di angka 10,9%, sementara angka nasional berada di 24,4%. Namun Gubernur Bali mengharapkan Bali bisa mencapai ‘Zero Stunting.’ “Bali tidak boleh terlena dengan capaian yang sudah bagus ini, tetap harus bekerja keras untuk menurunkan stunting sesuai harapan Bapak Gubernur,” tegasnya.

Terkait hal itu, Kepala Perwakilan BKKBN Bali yang akrab disapa dr. Luh De menyampaikan bahwa perlu diadakan kolaborasi dan konvergensi dengan berbagai lintas sector, mitra kerja baik pemerintah maupun swasta dalam rangka penurunan stunting. “Semua harus bergerak bersama-sama untuk mendukung program ini sesuai dengan tugas dan fungsinya,” jelasnya.

Untuk itu dr. Luh De berharap dinas Kominfos sebagai corongnya pemerintah daerah dapat ikut mendukung penyebaran dan sosialisasi pencegahan stunting melalui Promosi dan KIE di berbagai media, sehingga dapat tersebar ke seluruh pelosok di Provinsi Bali. “Media sudah berkembang pesat, kami mohon dukungan untuk menyebarkan media – media KIE terkait pencegahan stunting ke masyarakat,” tambah dr. Luh De. 

Pada kesempatan itu, dr. Luh De juga menambahkan bahwa Stunting ini dapat dicegah dari sejak remaja, melalui pengaturan pola makan yang seimbang. Saat ini remaja sangat sering melakukan diet yang tidak sehat, ini membahayakan bagi tubuhnya dengan rendahnya Hemoglobin (Hb) yang dapat menyebabkan anemia. Remaja dengan anemia lebih beresiko dalam melahirkan anak stunting.

“Sasaran penting kita saat ini adalah remaja yang harus disiapkan untuk kehidupan berkeluarga melalui pemahaman tentang pentingnya perencanaan,” imbuhnya,
Sementara Kepala Dinas Komunikasi, Informasi dan Statistik Provinsi Bali, Gede Pramana, ST.MT. menyataan siap mendukung program – program BKKBN melalui promosi media KIE terkait stunting di berbagai sarana yang dimiliki. Apalagi Pemerintah daerah saat ini sangat concern terkait percepatan penurunan stunting. “Kami siap dukung, materi-materi KIE bisa disampaikan ke kami, nanti bisa kami sesuaikan dengan kearifan lokal di Provinsi Bali untuk dipublikasikan ke berbagai media,” ujarnya.

Related Posts

Leave a Reply