Profil Pelajar Pancasila: Apakah sebuah Utopia?

Oleh Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum.
Dekan FKIP Universitas Dwijendra

Denpasar – Surya Dewata

Nilai-nilai Pancasila sudah dikenal sejak zaman kerajaan Sriwijaya dan Majapahit (sumber BPIP). Implementasi nilai-nilai Pancasila sudah terimplementasi di masyarakat tetapi belum dinamai dengan Pancasila.

Peran Bung Karno sangat vital dalam menggali nilai-nilai kehidupan masyarakat. Nilai-nilai berkehidupan bermasyarakat tersebut dirumuskan menjadi Pancasila.

Pancasila dijadikan dasar negara dengan tujuan nilai-nilai Pancasila dijadikan pedoman dalam berkehidupan bermasyarakat bagi bangsa Indonesia.

Pada masa Orde Baru, usaha yang dilakukan untuk membumikan nilai-nilai Pancasila dilakukan melalui penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila).

Penataran ini bertujuan untuk mengamalkan nilai-nilai Pancasila.Yang menjadi pertanyaan adalah apakah setelah mengikuti penataran setiap peserta mengamalkan Pancasila? Tujuan dilakukannya penataran-penataran P4 adalah untuk melahirkan manusia Pancasilais.

Manusia yang Pancasilais seperti apa kreterianya. Apakah ada manusia Pancasilais sejati di Indonesia? Pada masa pemerintahan Orde Baru, aroma KKN (Kolusi Korupsi Nepotisme) sangat masif. Susah membentuk manusia pancasilais sementara pemerintahannya bernuansa KKN.

Sejak reformasi, penataran P4 dihilangkan. Sekian tahun berjalan, ditengarai ada gradasi moral di masyarakat. Ahli memprediksi gradasi moral ini akibat dihilangkannya P4. Ada opini untuk mengembalikan pola penanaman Pancasila melalui P4.

Usaha pemerintah mengantisipasi kecenderungan degradasi moral diterbitkan peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2018 tentang penguatan pendidikan karakter (PPK) pada satuan pendidikan formal.

Dalam pasal 2 disebutkan PPK dilaksanakan dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan karakter terutama meliputi nilai-nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab.

Usaha pemerintah untuk membumikan nilai-nilai Pancasila juga dilakukan melalui Kurikulum Merdeka. Profil Pelajar yang terbentuk dalam pembelajaran (sesuai dengan Kurikulum Merdeka) adalah profil pelajar Pancasila.

Profil pelajar Pancasila dibentuk sebagai usaha pengembangan SDM unggul yang bersifat holistik, dan tidak berfokus pada kemampuan kognitif saja. Profil Pelajar Pancasila juga merupakan suatu capaian dari proses pembelajaran lintas disiplin.

Profil pelajar Pancasila merupakan bentuk penerjemahan tujuan pendidikan nasional. Profil pelajar Pancasila berperan sebagai referensi utama yang mengarahkan kebijakan-kebijakan pendidikan termasuk menjadi acuan untuk para pendidik dalam membangun karakter serta kompetensi peserta didik.

Profil pelajar Pancasila terdiri dari enam dimensi, yaitu: 1) beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, 2) mandiri, 3) bergotong-royong, 4) berkebinekaan global, 5) bernalar kritis, dan 6) kreatif.

Keenam dimensi profil pelajar Pancasila perlu dilihat secara utuh sebagai satu kesatuan agar setiap individu dapat menjadi pelajar sepanjang hayat yang kompeten, berkarakter, dan berperilaku sesuai nilai-nilai Pancasila.

Untuk terjaminnya ketercapaian profil pelajar Pancasila, perlu dipahami konsep profil pelajar Pancasila sehingga pendidik mempunyai pemahaman yang mendalam tentang profil pelajar Pancasila.

Konsep profil pelajar Pancasila bermakna seorang pelajar yang sedang mempelajari materi Pancasila. Hal ini bukan merupakan capaian pembelajaran tetapi capaian pembelajarannya adalah setelah mengikuti pembelajaran akan terlahir profil pelajar Pancasilais.

Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pancasilais berarti penganut ideologi Pancasila yang baik dan setia. Sebenarnya ini yang menjadi tujuan dalam pembelajaran. Pemahaman terhadap konsep harus jelas sehingga tujuan yang diharapkan dalam pembelajaran tercapai dengan baik.

Terlepas dari ketidaktepatan pemakaian konsep profil pelajar Pancasila, mengapa hanya siswa saja yang diharapkan menerapkan nilai-nilai Pancasila. Mengapa guru tidak.

Apakah semua guru sudah menerapkan nilai-nilai Pancasila? Kasus-kasus pelecehan seksual, kekerasan fisik, dan verbal terhadap siswa kerap terjadi. Pembentukan profil Pancasila akan berhasil apabila lingkungannya menerapkan nilai Pancasila.

Apakah keluarga masyarakat di lingkungan dilingkungannya sudah mengamalkan nilai-nilai Pancasila? Kasus korupsi tetap terjadi.

Kehidupan para pejabat negara yang hedonis, politisi saling umpat di televisi dengan menggunakan “kata-kata kasar”, penanganan kasus pembunuhan yang melibatkan petinggi Polri terkesan lama, dan ketidak santunan netizen dalam bermedia sosial.

Oleh karena itu, tidak adil rasanya, apabila usaha membumikan Pancasila hanya menyasar pelajar. Dengan kenyataan seperti itu, sulit rasanya melahirkan profil pelajar Pancasila. Hal ini merupakan sesuatu yang utopis.

Related Posts