
Denpasar – Surya Dewata
Guna meningkatkan profesional pemangku bagi umat Hindu Pinandita Sanggtaha. Usamtara (PSN) melaksanakan Kursus Teologi Hindu ” Brahma Widya ” di gedung PHDI Provinsi Bali, jalan Ratna Denpasar, hari Sabtu 06/06/2026
Dibuka oleh Gubernur Bali yang diwakili Kepala Dinas Pemajuan Masyarakat Adat Provinsi bali, I G.A.K. Kartika Jaya Seputra, S.H., M.H.
Ketua Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Koordinator Wilayah Bali Pinandita
I Wayan Dodi Arianta menelaskan Kursus Teologi Hindu Brahma Widya kali ini merupakan Angkatan ke-8.
Lanjutnya, Kursus ini dirangkai dengan pelaksanaan kuliah umum perdana bagi para peserta yang antusias mendalami ajaran teologi Hindu.
” Kursus ini merupakan implementasi nyata dari visi dan misi PSN untuk meningkatkan profesionalisme para pemangku serta memberikan pencerahan kepada umat Hindu ,” ucapnya
”Di tengah dinamika media sosial saat ini, sering muncul perbedaan pandangan keagamaan bahkan ujaran-ujaran tertentu, sangat penting bagi seorang pemangku atau pinandita untuk hadir memberikan pencerahan. Kita harus mampu menciptakan suasana yang sejuk, damai, dan penuh cinta kasih di tengah umat,” terangnya
Karena diikuti Peserta Luar Negeri dan Terapkan Sistem Hybrid
Kursus yang telah dirintis sejak tahun 2017 ini menunjukkan perkembangan yang luar biasa.
Berkat sistem pembelajaran hybrid—yakni perpaduan antara tatap muka langsung (luring) dan pertemuan virtual melalui Zoom Meeting (daring) yang diterapkan sejak pandemi COVID-19—kursus ini kini dapat diakses secara luas.
Tidak hanya diikuti oleh masyarakat dari Bali saja, kepesertaan angkatan ke-8 ini juga mencakup umat dari luar provinsi, bahkan ada peserta dari luar negeri yang saat ini berdomisili di India.
Mengenal 3 Tingkatan Kursus Teologi
Kursus Teologi Hindu Brahma Widya ini dirancang secara berjenjang, dengan durasi belajar selama 10 bulan untuk setiap tingkatannya.
Terdapat tiga tingkatan kursus yang dilaksanakan oleh PSN Bali:
Tingkat 1: Kursus Teologi Dasar
Terbuka untuk umum dan dapat diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat Hindu yang ingin memperdalam pengetahuan dasar keagamaan.
Tingkat 2: Teologi Kepinanditaan / Kepemangkuan
Khusus diperuntukkan bagi para pemangku guna meningkatkan pemahaman teologis dan kapasitas mereka dalam melayani umat.
Tingkat 3: Teologi Kepanditaan / Kesulinggihan
Tingkatan lanjutan bagi para pemangku yang ingin mempersiapkan diri atau meningkatkan pengetahuan spiritualnya menuju jenjang yang lebih tinggi (Mewinten/Mediksha).
Harapan Dukungan dari Pemerintah !!
Hingga angkatan ke-8 ini, seluruh operasional kursus secara swadaya mandiri, di mana biaya pendidikan ditanggung sepenuhnya oleh para peserta.
Melihat animo masyarakat yang begitu besar—dengan total alumni yang kini telah mencapai lebih dari 2.000 orang—PSN Bali berharap adanya perhatian dan dukungan dari pemerintah di masa mendatang.
”Ke depan ada perhatian dari pemerintah sehingga kursus ini bisa dilaksanakan secara gratis, tentu akan sangat membantu kami dan seluruh umat Hindu, baik yang ada di Bali maupun di Nusantara ,” tutup Pinandita Dodi.
Sementara Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali, I Nyoman Kenak, SH., mengungkapkan rasa bangga sekaligus apresiasinya terhadap tingginya antusiasme masyarakat dalam mengikuti Kursus Pinandita Brahma Widya.
Kursus yang kini telah memasuki gelombang kedelapan tersebut dinilai sukses mempertahankan minat peserta secara konsisten.
”Ini suatu kebanggaan bagi kami di majelis tertinggi umat Hindu. Antusiasme masyarakat untuk mengikuti kursus di Brahma Widya ini luar biasa ,” ucapnya
Lanjutnya, Setiap gelombang, yang sekarang sudah memasuki gelombang kedelapan, jumlah pesertanya tidak pernah di bawah 100 orang, selalu terus meningkat..Tantangan Menjaga Kualitas dan Profesionalisme
Kendati mencatatkan angka partisipasi yang tinggi, Nyoman Kenak mengingatkan bahwa hal ini menjadi tantangan besar bagi para pengurus Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN).
Ia menegaskan agar kuantitas peserta yang melimpah tidak sampai menurunkan kualitas output dari kursus tersebut.
Menurutnya, citra lembaga Brahma Widya di mata masyarakat harus tetap dijaga dengan baik.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, PHDI Bali mendorong adanya pemahaman yang mendalam serta inovasi atau perubahan (disruption) demi meningkatkan, atau minimal mempertahankan, standar kualitas kursus.
Salah satu langkah konkretnya adalah dengan lebih selektif dalam menghadirkan narasumber yang benar-benar kompeten di bidangnya.
”Catur Guru itu mutlak dan harus digugu, tidak boleh sembarangan ditentang, apalagi diperdebatkan. Tugas seorang pinandita atau pemangku adalah belajar dan mengajar. Itulah fungsi utama mereka,” tegasnya.
Kurikulum Komprehensif: Tidak Hanya Spiritual
Lebih lanjut, Nyoman Kenak menjelaskan bahwa esensi dari Brahma Widya tidak hanya terbatas pada pemahaman ketuhanan, penggunaan genta, atau rapalan puja semata.
Di era modern ini, seorang pemangku dituntut untuk memahami berbagai aspek kehidupan secara komprehensif, termasuk aspek hukum dan kesehatan.
”Masyarakat yang melakukan upacara yadnya, seperti pernikahan, tentu memerlukan pemangku yang paham aturan hukum.
Begitu pula dengan upacara potong gigi (mepandes) yang erat kaitannya dengan aspek kesehatan. Pemangku harus paham mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Jadi, cakupannya sangat luas, bukan hanya masalah spiritual saja,” imbuhnya.
Adaptasi di Era Digital dan Kunci Keberhasilan
Menyikapi perkembangan era digitalisasi dan kehadiran Artificial Intelligence (AI), Nyoman Kenak memandang bahwa teknologi memang mempermudah akses informasi, termasuk menyaksikan visualisasi praktik upacara keagamaan secara virtual.
ia menggarisbawahi bahwa ada hal-hal prinsipil dalam ajaran Hindu yang tidak dapat digantikan oleh dunia virtual.
”Praktik-praktik keagamaan tertentu tetap memerlukan bimbingan langsung dari seorang Nabe atau tutor agar hasilnya sempurna. Ada bagian yang bisa diikuti secara virtual, namun ada yang mutlak harus dipelajari secara langsung,” urainya.
Ketua PHDI Bali memberikan pesan mendalam kepada seluruh peserta, baik yang sedang mengikuti kursus maupun yang telah menyelesaikannya.
Ia menekankan bahwa tidak ada jalan pintas untuk menjadi seorang pemangku yang mengemban tugas sebagai Adi Guru Loka.
”Kunci keberhasilan bagi mereka yang mengemban tugas upadisa ini adalah disiplin. Tidak ada yang lain. Hanya disiplin dan tapa. Jika mereka disiplin, segala sesuatunya pasti bisa diselesaikan dengan baik,” tutup Nyoman Kenak.
