
Yogyakarta – Surya Dewata
Kadek Darmawan, mahasiswa Program Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), Peminatan Perilaku dan Promosi Kesehatan, meraih penghargaan Best Oral Presenter dalam 9th Biennial Scientific Meeting of the Indonesian Health Economics Association (BSM INAHEA) 2026.
Penghargaan tersebut diraih melalui presentasi hasil riset kolaboratif bersama I Made Dwi Mertha Adnyana, M.Ked.Trop., Dosen Departemen Mikrobiologi dan Parasitologi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi (FKIK UNJA).

Penghargaan diberikan atas presentasi karya berjudul “Dari Riset Molekuler Menuju Diagnosis Point-of-Care Testing: Tren Global CRISPR–Cas untuk Pengendalian dan Tatalaksana Tuberkulosis”, yang disampaikan pada 25 Juli 2026 di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.
Biennial Scientific Meeting INAHEA merupakan forum ilmiah yang diselenggarakan setiap dua tahun sebagai ruang diseminasi hasil penelitian, dialog kebijakan, dan kolaborasi lintas disiplin dalam bidang ekonomi kesehatan dan sistem kesehatan.
Kegiatan yang berlangsung pada 23–25 Juli 2026 tersebut diselenggarakan oleh Indonesian Health Economics Association bersama Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman dengan tema “From Evidence to Action: Digital-Driven Efficiency for Resilient and Sustainable Health System.”
Kegiatan ini mencatat lebih dari 118 peserta terdaftar serta menghadirkan akademisi, peneliti, praktisi kesehatan, dan pemangku kebijakan dari berbagai institusi.
Dalam forum tersebut, Kadek Darmawan mempresentasikan hasil penelitian tim yang berangkat dari persoalan bahwa tuberkulosis masih menjadi tantangan besar bagi kesehatan masyarakat, terutama di negara dengan beban TB tinggi seperti Indonesia.
Keterlambatan diagnosis, munculnya resistansi obat, serta keterbatasan akses terhadap pemeriksaan molekuler masih menjadi hambatan dalam menemukan dan menangani pasien secara cepat.
Teknologi CRISPR–Cas, yang awalnya dikenal sebagai perangkat penyuntingan gen, kini berkembang menjadi platform diagnostik molekuler yang berpotensi mendeteksi materi genetik Mycobacterium tuberculosis secara cepat dan sensitif. Namun, perkembangan riset global mengenai teknologi tersebut dan relevansinya bagi sistem kesehatan Indonesia belum banyak dipetakan secara komprehensif.
Untuk menggambarkan perkembangan bidang tersebut, Kadek Darmawan dan I Made Dwi Mertha Adnyana menggunakan pendekatan bibliometrik dan scientometrik dengan menelusuri publikasi pada basis data Scopus.
Penelusuran dilakukan pada 13 April 2025 dengan cakupan tahun publikasi 2005–2025. Hasil skrining memperoleh 71 artikel yang sesuai dengan topik kajian untuk dianalisis lebih lanjut. Melalui pendekatan ini, peneliti tidak hanya menghitung jumlah publikasi, tetapi juga menelusuri perubahan arah perkembangan ilmu mengenai pemanfaatan CRISPR–Cas dalam pengendalian tuberkulosis. Secara ringkas,
Penelitian ini mengungkapkan bahwa CRISPR–Cas berpotensi digunakan sebagai kandidat point-of-care testing yang lebih presisi untuk mempercepat diagnosis. Temuan lainnya menunjukkan tidak adanya publikasi dari Indonesia dalam kumpulan 71 artikel yang dianalisis.
Kesenjangan tersebut menjadi perhatian karena Indonesia merupakan salah satu negara dengan beban TB tinggi dan menghadapi tantangan geografis serta keterbatasan infrastruktur laboratorium di sejumlah wilayah.
Dari perspektif kesehatan masyarakat, penelitian ini juga menempatkan inovasi diagnostik sebagai bagian dari sistem kesehatan yang harus dikaji secara menyeluruh. Ketepatan teknologi saja belum cukup apabila belum ditunjang oleh biaya yang terjangkau, kesiapan tenaga kesehatan, keamanan biologis, perlindungan data genomik pasien, tata kelola regulasi, dan kemampuan fasilitas pelayanan kesehatan untuk mengoperasikannya.
Karena itu, pengembangan CRISPR–Cas untuk TB perlu melibatkan perguruan tinggi, pemerintah, fasilitas pelayanan kesehatan, industri, organisasi profesi, serta komunitas yang terdampak oleh kebijakan dan penerapan teknologi kesehatan.
Penelitian tersebut merekomendasikan pembentukan konsorsium nasional CRISPR–TB yang dapat mempertemukan akademisi, industri, klinisi, dan pengambil kebijakan. Prioritas riset yang diusulkan mencakup pengembangan platform diagnostik yang sesuai dengan kondisi tropis dan keterbatasan infrastruktur, validasi klinis pada populasi Indonesia, identifikasi mekanisme resistansi obat, serta pengembangan pemeriksaan multipel yang dapat menggabungkan deteksi TB, HIV, dan profil resistansi dalam satu platform.
Selain itu, diperlukan regulasi mengenai keamanan biologis dan perlindungan data genomik, dukungan pembiayaan penelitian, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam bidang teknologi genomika.
Keberhasilan Kadek Darmawan meraih Best Oral Presenter menunjukkan bahwa mahasiswa dengan latar belakang Perilaku dan Promosi Kesehatan juga dapat berkontribusi dalam pembahasan inovasi diagnostik dan teknologi kesehatan.
Kontribusi tersebut tidak hanya terletak pada pemahaman terhadap aspek teknis suatu teknologi, tetapi juga pada kemampuan menghubungkan perkembangan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan penelitian, pelayanan, kebijakan, dan penguatan sistem kesehatan.
Kolaborasi bersama akademisi Universitas Jambi dalam penelitian ini sekaligus memperlihatkan pentingnya kerja ilmiah lintas institusi dan disiplin untuk menjawab persoalan kesehatan masyarakat yang semakin kompleks.
